Kamis, Oktober 01, 2009

Apa itu Punk?

Apa itu Punk?

Rokka said: Gag inget sumbernya darimana.


KAYAKNYA bakalan lebih asyik kalo kita ngomongin dulu apa itu punk sebelum ngomongin yang lain. Kenapa begitu? Ya, iya lah… kalo pengen ngomongin sesuatu itu ‘kan harus tahu dulu pengertian dari “sesuatu” itu. Ya, nggak? Sebab, kalo ngomongin sesuatu tapi nggak tahu atau nggak sadar, sama dengan orang yang lagi ngigau.

Eric Jaffe, salah seorang penulis menyebutkan begini, “Punk was a new music, a new social critique, but most of all, it was a new kind of free speech. Kalo diartikan secara bebas, kurang lebih bunyinya begini, “punk adalah genre musik baru, sebuah kritik sosial, tapi diantara semuanya, ia adalah cara baru dalam kebebasan berpendapat.”

Mungkin kita lebih mengenal punk sebagai musik. Tapi itu nggak salah, sebab musik seolah-olah jadi jurubicara gagasan-gagasan pemikiran gerakan punk.
Kalo dilihat dari sejarahnya, berbagai sumber menyebutkan kalo apa yang sering diistilahkan sebagai punk adalah sebuah sub-kebudayaan yang lahir di London, Inggris. Sebagai sub-kebudayaan, udah pasti nggak cuma apa yang tampak dari mereka para punker, tapi juga apa yang mereka pikirin. Cuma sayang, dalam perkembangannya, kelompok punk ini selalu dikacaukan golongan skinhead yang kemudian bikin banyak orang jadi bingung dalam memahami apa itu punk.

Terlebih sejak tahun 1980-an, waktu punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu. Skinhead sendiri lebih merupakan gerakan politik rasis kulit putih yang dicirikan dengan kepala plontos dan perilaku agresif dan mendekati anarkisme. Tapi nggak usah heran, soalnya punk dan skinhead punya semangat yang sama yaitu, menjadi oposisi kaum penguasa, cuma cara yang dipilihnya berbeda.

Punk bisa dipahami dalam dua kata kunci penting. Pertama, sebagai jenis atau genre musik yang lahir di awal tahun 1970-an. Kedua, punk juga bisa dipahami sebagai ideologi hidup manusia, khususnya yang berhubungan sama aspek sosial dan politik. Justru faktanya, musik punk adalah manifestasi dari gerakan punk.

Pertama, sebagai ideologi yang muncul dalam gerakan sosial, punk adalah gerakan anak muda yang dulunya dilakukan sama anak-anak kelas pekerja di Inggris. Ideologi ini semakin meluas sampe ke Amerika Serikat yang waktu itu emang lagi mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang disebabkan kemerosotan moral para tokoh politik yang buntutnya semakin banyak penjahat dan pengangguran.
Lewat gerakannya, anak-anak punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak. Motivasi ini mungkin ngingetin kamu sama sejarah musik rap yang pernah diprotes sama pemerintah Amerika lantaran “nggak mendidik” karena penuh dengan kata-kata kasar dan makian-makian.

Saking bingungnya orang sama fenomena perkembangan aliran punk yang hampir disamain dengan skinhead ini, banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh. Glue sniffer adalah para penghisap aroma lem yang mengandung alkohol yang bertujuan sebagai protes sama kondisi ekonomi karena mereka nggak bisa beli minuman beralkohol.

Nggak cuma itu, nama baik punk juga semakin banyak tercoreng ketika para penjahat mengidentifikasikan diri mereka dalam melakukan aksi keributan, kerusuhan, bahkan tindakan kriminal dengan menggunakan atribut punk.

Maraknya ideologi punk ini bikin para pelaku ekonomi muter otak buat nyari duit. Gara-gara para pelaku ekonomi inilah, punk sebagai fesyen atau gaya dandanan mulai marak. Ironisnya, punk sebagai fesyen inilah yang rawan sama jebakan-jebakan imitasi. Diantara desainer yang menggunakan punk sebagai komoditi komersil ini antara lain Vivienne Westwood dan Zandra Rhodes yang keduanya asal Inggris.

Lantaran ini, punk kemudian lebih terkenal sebagai fesyen yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, kayak potongan rambut mohawk ala Indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna ngejreng, sepatu boot, rantai dan spike, jaket kulit, celana jins ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti-sosial, kaum perusuh dan penjahat kelas teri. Semua perilaku yang diciptakan ini bikin orang-orang semakin yakin bahwa punk identik sama kekerasan.

Kedua, punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan keyakinan “we can do it ourselves.” Banyak diantara mereka yang memilih mengekspresikannya lewat musik. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).Dengan pandangan Semenov di atas, kayaknya apa yang dilakukan sama punk adalah merupakan “re-design” atau mengatur ulang dengan tujuan menciptakan sesuatu yang sama sekali baru.

Kayaknya, inilah yang dimaksudkan sama Roger Sabin lewat ungkapannya ketika mengamati fenomena punk di Inggris, tempat kelahirannya. “That year, when punk broke nationwide in Great Britain, was to be both a musical and a cultural “Year Zero”. Pada saat itu, ketika punk memprotes kekuasaan di Inggris Raya, ialah dengan menciptakan musik dan kebudayaan “Tahun Nol.” Yang dimaksud dengan “Tahun Nol” adalah titik awal akan kelahiran suatu gerakan baru.

Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyeleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup.
Tindakan mereka dalam proses “re-design” ini salah satunya diakibatkan oleh kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley.

John Robb menyebutkan bahwa tujuan kelahiran musik punk untuk melawan arus perkembangan rock modern sekaligus membedakan dirinya dengan musik rock yang bombastis dan sentimentil sebagaimana yang banyak terjadi pada awal tahun 1970-an. Musisi punk nggak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran sama penguasa. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa kemarahan dan kejenuhan, berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.

Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri. Ini juga yang bikin punk jadi “anak tiri” dalam blantika musik. Mereka dianggap nggak layak tampil gara-gara sikap dan penampilan mereka yang “nggak menjual.” Udah pasti bakal bikin pengusaha pertelevisian dan pengusaha rekaman bakal jatuh bangkrut.

Punk dan Anarkisme

Kegagalan dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers).

Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.

Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pencetusnya yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri.

Padahal, anarkisme atau dieja anarkhisme berasal dari kata dasar anarki dengan imbuhan isme. Kata anarki adalah kata serapan dari bahasa Inggris anarchy atau anarchie (Belanda/Jerman/Prancis), yang berakar dari kata Yunani anarchos atau anarchein yang merupakan kata bentukan a (tidak/tanpa/nihil/negasi) yang disisipi n dengan archos atau archein (pemerintah/kekuasaan atau pihak yang menerapkan kontrol dan otoritas - secara koersif, represif, termasuk perbudakan dan tirani).
Dengan begitu, anarchos atau anarchein ialah “tanpa pemerintahan atau pengelolaan dan koordinasi tanpa hubungan memerintah dan diperintah, menguasai dan dikuasai, mengepalai dan dikepalai, mengendalikan dan dikendalikan, dan lain sebagainya.” Sedangkan anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki. Sedangkan isme sendiri berarti paham atau ajaran, atau ideologi.
Secara spesifik pada sektor ekonomi, politik, dan administratif, anarki berarti koordinasi dan pengelolaan, tanpa aturan birokrasi yang didefinisikan secara luaas sebagai pihak yang superior dalam wilayah ekonomi, politik dan administratif, baik pada ranah publik maupun privat.
Negara menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang seringkali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.

Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Punk etika semacam inilah yang lazim disebut DIY. Bukan, yang jelas bukan Daerah Istimewa Yogyakarta, hehehe… tapi “do it yourself!”

Keterlibatan kaum punk dalam ideologi anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu sendiri, karena punk memiliki kekhasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan gerakan anarko-punk.
Anarko-punk adalah bagian dari gerakan punk yang dilakukan sama kelompok, band, atau individu-individu yang secara khusus menyebarkan ide-ide anarkisme. Dengan kata lain, anarko-punk adalah sebuah sub-kebudayaan yang menggabungkan musik punk dan gerakan politik anarkisme. Nggak semua punk diidentikkan dengan anarkisme. Tapi, anarkisme punya peran yang lumayan dalam punk. Begitu juga sebaliknya, punk memberikan pengaruh yang besar pada wajah dunia anarkisme kontemporer.
Beberapa band punk penting yang cukup populer dan dianggap sebagai pelopor gerakan anarko-punk antara lain; Crass, Conflict, dan Subhumans. Sedangkan di Indonesia beberapa band anarko-punk yang cukup populer antara lain Marjinal, Bunga Hitam, dan lain sebagainya.

Beberapa isu politik yang banyak diangkat oleh anarko-punk antara lain dukungannya terhadap gerakan anti perang, hak hidup satwa, feminisme, isu lingkungan, kebersamaan, anti kapitalisme, dan beberapa kasus-kasus yang juga banyak diangkat oleh para anarkis pada umumnya.
Steven Wells menyempurnakan pendapat ini. ia mengungkapkan bahwa dalam gerakan punk, yang mereka lawan bukanlah rakyat, tetapi para penguasa yang tidak adil. Nah… kamu bisa paham bahwa punk sama anarki itu sebetulnya dua hal yang masing-masing berbeda satu sama lain. Cuma aja, sebagai gerakan anak muda yang rata-rata tidak puas sama keadaan sosial-politik khususnya, perlawanan mereka lebih banyak muncul dalam tindakan-tindakan anarkis.

Anarki sebagai ideologi, kayak udah diceritain di atas, punya pengertian yang jelas yaitu ideologi yang menginginkan kondisi masyarakat tanpa negara yang buntutnya juga berarti nggak ada aturan sama sekali. Semua orang hidup seenak perut. Hal ini udah pasti beda sama anarki sebagai tindakan.

Sebab, kebebasan bisa dipahami dalam dua cara. Pertama, kebebasan sebagai perbuatan yang dilakukan sesuai dengan kemauan dan kesenangan hati. Kedua, kebebasan dengan pilihan. Artinya, yang pertama adalah bebas sebebas-bebasnya, tanpa aturan sedangkan yang kedua, bebas dengan pilihan. Di hadapan kita ada dua pilihan yang bisa dengan bebas kita pilih salah satunya.
Dalam gerakan punk, anarkisme adalah pilihan kedua setelah mencoba pilihan pertama dan gagal. Kebebasan dalam anarkisme punk bukanlah kebebasan tanpa batas, apalagi nggak masuk akal. Sebagai tindakan, anarki bukanlah tindakan kekerasan tanpa sebab. Justru ketidakadilan negara-lah yang mereka tuding sebagai pemicu anarkisme. Dengan kata lain, gerakan punk bukanlah gerakan yang menolak konsep negara atau hukum yang membatasi ruang gerak dan kebebasan manusia, asalkan negara memang bisa memainkan perannya dengan baik dan menjalankan hukum dengan adil. Beda banget, ‘kan?
Gagasan ini pasti bakal ngingetin kamu sama lagu Iwan Fals yang judulnya “Manusia ½ Dewa” yang kalo nggak salah, potongan liriknya begini;

Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu…
Pasti kuanggap engkau…
Manusia setengah dewa…

Lagu ini menyiratkan semangat punk dalam diri Bang Iwan. Masalah moral, kata Bang Iwan masih dalam lagunya, bakal baik dengan sendirinya selama semua masyarakat diberikan kepastian hukum dan diperlakukan secara adil dan diperhatikan.

Coba aja kamu bayangin negara yang nggak punya kepastian hukum. Keadaan negara yang nggak punya kepastian hukum cuma nambah penjahat yang sebetulnya nggak mau jadi bajingan. Atau, bertambahnya koruptor kelas teri yang “cemburu” lantaran banyaknya koruptor kelas kakap yang bisa kabur seenaknya. Banyak orang yang nggak mau berurusan dengan hukum gara-gara nggak ada rasa keadilan. Buntut dari semua ini, proses hukum cuma jadi semacam parodi yang jadi tontonan dan bahan caci-maki.

Melalui musik, anak punk mengeluarkan pikiran-pikiran mereka, menumpahkan kekecewaan mereka, menyindir para penguasa, mencaci-maki para penjahat berdasi seraya menceritakan kemiskinan yang terus merajalela, pengangguran yang semakin meningkat, perang saudara yang bermunculan gara-gara masalah sepele dan semua hal yang berkaitan dengan fenomena sosial dan politik. Inilah citarasa anarkisme dalam punk yang sesungguhnya.

Anak punk sadar bahwa mereka bukan politisi yang bisa berteriak menyuarakan gagasan mereka dalam pentas politik atau mengajukan usul untuk perbaikan kehidupan sosial masyarakat. Itulah sebabnya mereka mengekspresikannya melalui musik dan lirik-lirik lagu. Jadi, kamu nggak usah heran lagi kalo lagu punk banyak yang berbau kritik, introspektif dan sindiran, baik langsung ataupun nggak.
Semua ini pasti punya tujuan. Mereka pengen ngingetin semua orang supaya sadar dengan keadaan yang sedang terjadi. Tentang ketidakadilan yang semakin menggila. Tentang perang yang nggak pernah ada gunanya buat siapapun. Tentang pengangguran yang banyak melahirkan bandit-bandit baru.

That is punk!

anarkisme : paham yang tak pernah padam !

anarkisme : paham yang tak pernah padam !


Published on August 30, 2006 by HarisX
Oleh Alm. Mansour Fakih


Selama ini, mendengar kata Anarkisme disebut, banyak orang segera merasa gelisah dan cemas, terbayang suatu kelompok manusia bringas yang siap menebarkan keonaran, kekacauan, kehancuran dan malapetaka. Meskipun pada umumnya orang hanya secara intuitif, tanpa tidak pernah mencoba menggali lebih seksama tentang apa yang disebut sebagai pandangan Anarkis tersebut, Namun istilah anarki sendiri sudah terlanjur menimbulkan kemarahan dan terlanjur secara luas disimpulkan bahwa anarkisme adalah sebagai suatu paham yang menakutkan karena jahat. Orangpun tanpa berpikir panjang percaya bahwa Anarkisme adalah negatif dan berbahaya, titik. Pendek kata, dalam memandang anarkisme, tidak hanya apparatus negara, bahkan masyarakat akademia, bersepakat bahwa Anarkisme adalah musuh umat manusia.
 
 Dengan demikian keyakinan yang mendominasi pemikiran masyarakat luas adalah bahwa “anarkisme” tidak lebih dari penyakit sosial yang bertentangan dengan segala norma sosial yang baik dan pantaslah jika anarkisme dianggap musuh masyarakat. leh karena itu dianggap wajar juga untuk menganjurkan untuk memberantas Anarkisme sampai keakar-akarnya. Anjuran untuk senantiasa waspada terhadap segala bentuk anarki saat ini telah menjadi hampir kesepakatan sosial. Pendek kata, Anarkisme perlu di amputasi atau dilenyapkan, untuk selamanya.

Lantas mengapa Anarkisme menjadi paham yang sangat ditakuti sehingga perlu dibrantas habis? Jangan-jangan letak persoalannya hanya karena kita tidak paham betul apa sebenarnya yang menjadi cita cita Anarkisme. Lebih ironis lagi, jangan-jangan secara diam-diam kita, anda dan saya tanpa menyadari, juga dalam beberapa hal bersimpati bahkan untuk banyak hal berbagi keyakinan dengan anarkisme Atas alasan itu semua, perlunya untuk memperdebatkan, merenungkan dan mempertimbangkan anarkisme sehingga akan melahirkan sikap kritis masyarakat sebagai alternatif dari sikap apriori menerima maupun apriori menolak, ataupun membenci secara membabi buta ataupun sikap secara taklid buta untuk menerima atau menolak tanpa suatu kesadaran mengapa dan untuk apa. Oleh karena itu lahirnya sikap dan kesadaran kritis yang didorong oleh suatu keterbukaan, dialog kritis adalah sesuatu yang yang harus difasilitasi oleh karena tema yang umumnya dianggap tabu untuk dibicarakan, bahkan tidak layak untuk diapresiasi, justru yang seharusnya perlu diapresiasi dan yang pertama tama perlu diacungkan jempol.

Lantas, apa sebenarnya dan mengapa Anarkisme begitu kontroversial? Anarkisme sebagai suatu paham atau pendirian filosofis maupun politik yang percaya bahwa manusia sebagai anggota masyarakat akan membawa pada manfat yang terbaik bagi semua jika tanpa diperintah maupun otoritas, boleh jadi merupakan suatu keniscayaan. Pandangan dan pemikiran anarkis yang demikian itu pada dasarnya menyuarakan suatu keyakinan bahwa manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang secara alamiah mampu hidup secara harmoni dan bebas tanpa intervensi kekuasaan juga tidaklah ssuatu keyakinan yang sangat salah. Lalu dari mana datangnya persepsi bahwa anarkisme berarti mendorong pada kehancuran dan keberantakan? Padahal sangat jelas dari pengertian diatas sesungguhnya Anarkisme tidak identik dengan keyakinan pecinta kehancuran. Bahkan tidak ada indikasi bahwa anarkisme serta merta merupakan cita acita yang menjurus kearah kekacauan ataupun kehanacuraan dan keberantakan. Namun yang jelas memang anarkisme merupakan suatu pemikiran yang mendambakan suatu “orde” yang bersifat spontan. Mereka umumnya menolak segala prinsip otoritas politik, pada saat yang sama sangat percaya bahwa keteraturan sosial niscaya terwujud justru jikalau tanpa otoritas politik. Secara sepintas dapat dilihat, bahwa musuh gerakan anarki adalah segala bentuk otoritas, maupun segala bentuk simbol otoritas, dan bentuk otoritas yang bagi kaum anarkis sangat jelas adalah otoritas yang dimiliki oleh negara moderen. Itulah sebabnya bagi kaum anarkis, negara dipandang memonopoli otoritas kekuasaan yang perlu dibatasi, misalnya seperti kekuasaan territorial yang mereka miliki, kekuasaan yuridiksi atas rakyat termasuk kekuasaan menguasai kekayaan sumber daya didalam wilayah yang mereka kuasai. Kekuasaan negara juga muncul dalam bentuk pemanfaatan sistim hukum positive yang eksistensinya serta merta menundukkan dan menyingkirkan semua bentuk hukum yang “dianggap negatif”, seperti hukum adat dan banyak hukum lainnya. Dan akhirnya gagasan bangsa sebagai suatu bentuk puncak dari politisasi masyarakat juga menghancurkan segala bentuk kelompok kelompok masyarakat. Semua otoritas tersebut dipelihara melalui monopoli penguasaan alat alat pertahanan dan keamanan, bahkan negara memonopoli cara untuk menundukkan rakyat. Sebaliknya anarkisme memang mengidamkan suatu visi social tentang “masyarakat alami” yakni suatu masyarakat swakelola yang mandiri dari para invidual yang secara swadaya membentuknya. Anarkisme bahkan menjadi sikap politik bahwa pemerintahan selain tidak perlu juga destruktif. Ini memang sesuai dengan makna harfiah Anarki, yang konon asal katanya memang berakar dari kata Yunani yang artinya kurang lebih “tanpa aturan atau without a rule”, dan memang dalam perkembangannya telah digunakan.
Apa sebenarnya pandangan, visi dan pendirian filosofis kaum anarkis? Anarkisme mengambil berbagai bentuk dan spektrum, yakni dari Anarkisme aliran kiri dan eskrim kiri, maupun anarkisme aliran kanan bahkan sampai anarkisme ekstrem kanan yang berwatak individualistik. Meskipun anarkisme kelihatannya berakar pada paham kebebasan individual yang liberal, namun lokasi konflik pahamnya justru pada pada titik yang terletak antara negara dan masyarakat. Meskipun terdapat berbagai aliran pemikiran kaum narkisme dalam berpendirian terhadap lokasi konflik negara-masyarakat tersebut. Namun pendirian pendirian mereka sesungguhnya secara sederhana dapat dikatagorikan kedalam Anarki individualistik dan anarki sosialistik. Anarki Individualistik berangkat dari cita cita kebabasan individual, serta berpangkal juga dari kedaulatan individual atas pemilikan harta dan kekayaan pribadi, serta pemilikan privat. Dengan demikian arah anarki individualis ini adalah suatu bentuk dari anarki kapitalisme. Sementara anarki kiri yang berwatak sosialistik justru berangkat dari penolakan kekayaan pribadi dan negara yang menurut mereka sebagai sumber penyebab dari ketidakadilan sosial. Golongan anarki ini justru berpendirian perlunya pembatasan kekuasaan dan keperkasaan negara atas individu dalam kelompok kelompok masyarakat. Pendek kata paham ini adalah perkawinan antara paham bercorak liberalistik dan sosialisme. Itulah mereka juga disebut sebagai Sosialisme Libertarian.

Kalau kita telaah perkembangan pemikiran dan gerakannya, Anarkisme sudah lama sekali berkembang dan pemikiran tersebut masing berkembang hingga saat ini dengan nama, gaya dan bentuk yang berbeda-beda. Meskipun sudah lama berkembang, misalnya William Godwin (1756-1836) telah melontarkan gagasan yang diduga menjadi inspirasi paham Kooperasi sosialis model Owen, namun membincangkan paham anarkisme tidak dapat melupakan bagitu saja tokoh pemikir Proudhon yang pada dasarnyaa mengadaaopsi gagaan koperasi sosialis. Dia melihat bahka kekuasaan negara dan kekuasaan Modal adalah sinonim, sehingga mustahil baginya menggunakan negara untuk memperjuangan kaum proletar. Belakangan Bakunin melanjutkan gagasan tersebut, bedanya Bakunin menempuh jalan pengambilalihan secara revolusioner dan kekerasan untuk membangun kolektivisme. Peter Kropotkin salah seorang pengikutnya Bakunin melanjutkan gagasan tersebut secara lebih komunistik, yakni dengan menganjurkan gagasan “segala sesuatu milik setiap orang, dan pembagian didasarkan pada kebutuhan tertentu masing-masing.

Perkembangan praktek anarkisme demikian juga penentangnya dimana mana dan para buruhpun mulai mengadopsinya yang melahirkan suatu sempalan baru yang dikenal dengan “Anarcho-Syndicalism”, atau Revolutionary Syndicalism. Mulai dari pikiran bahwa fungsi serikat buruh yang secara tradisional memperjuangkan kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja dianggap sudah lagi tidak memadai. Serikat buruh harus menjadi organisasi militan untuk menghancurkan Kapitalisme dan negara. Buruh harus ambil alih pabrik-pabrik dan dikuasai. Dengan demikian, serikat buruh juga dituntut mampu untuk menjadi pengelola manajemen pada saat pasca revolusi. Pendek kata bagi mereka serikat buruh pada dasarnya berfungsi sebagai badan perlawanan, namun pada era pasca revolusi serikat buruh harus juga berfungsi dalam administrasi menjemen untuk mengelola industri. Untuk menjaga stamina militansi, suasana lingkungan perlu secara terus menerus dikembangkan untuk itu. Mereka, para anarki sindikalis dimasa lalu sangat percaya bahwa suatu aksi perlawanan yang massif akan mampu melumpuhkan negara dan bahkan sistim kapitalisme.

Bagaimana gerakan anarki saat ini dan masa mendatang? Saat ini sesungguhnya gerakan anarkisme tengah mengalami kemunduran. Kecuali di Spanyol gerakan anaki dihancurkan dimana-mana. Meskipun dua tokoh Anarki besar seperti Bakunin dan Kropotkin berasal dari Rusia, namun gerakan itu disana justru dikerdilkan oleh rezim totaliter disana maupun idenya dikooptasi oleh Partai Sosialia Revolusioner Narodniki.

Sementara ditempat lain dimasa lalu gerakan Anarkisme pernah mengalami kejayaannya. Contohnya, gerakan perlawanan sosio kultural yang dipelopori oleh Mahatma Gandhi dianggap sebagai realitas dari pengaruh Anarkisme di Asia. Gandhi berhasil mengembangkan gerakan resistensi dan pembangkangan social yang bersifat anti-kekerasan di Afrika Selatan dan India. Orang percaya bahwa Gandhi banyak membaca pikiran Anarkis seperti Leo Tolstoy dan Thoreau maupun Kropotkin. Meskipun impian Gndhi tentang suatu masyarakat komunal berbasis desa swadaya belum pernah terwujud, tetapi pemikirannya dilanjutkan orang orang sepahamnya dengan mengembangkan gerakan Sardovaya yang dipimpin oleh Vinoba Bhave Jaya Prakash Narayan yang mengembangkan gerakan pemilikan tanah secara kolektif yang dikenal dengan gramdan, dimana pada tahun 60-an menjadi gerakan yang mendapat sambutan secara luas di India.

Di Barat Anarkisme memang menjadi daya tarik kaum intelek. Anarkisme dianggap menjadi pendorong gerakan Civil rights di Amerika akhir tahun 1950-an, dimana warga kulit hitam Amerika melakukan resistensi terhadap ketidakadilan yang dilegalisir dalam konstitusi dengan menggunakan gerakan moral. Gerakan itulah yang dianggap sebagai picu gerakan social selanjutnya, dimana gerakan sosial makin meluas dan meruncing, tidak hanya terbatas sebagai gerakan civil rights tapi telah berkembang menjadi gerakan umum menentang struktur elitisme dan gerakan kritik terhadap gaya hidup materialisme masyarakat industri baik di negara negara Kapitalis maupun negara Komunis. Gerakan itu terus berlangsung hingga tahun tahun 1960-an dan 1970-an. Anarkisme dengan demikian telah menjadi identik dengan gerakan “counter culture” atau budaya tanding yang sangat popular dikalangan anak muda dan Mahasiswa dan kelompok kiri secara umum di Amerika dan Eropa serta Jepang. Namun watak anarkisme generasi ini memang lebih merupakan pemberontakan budaya ketimbang suatu hal yang berwatak ideologis.

Pendirian akan penolakan kaum anarki terhadap negara, serta desakan untuk desentalisasi dan otonomi lokal, sangat gaung kuat terhadap mereka yang bercita cita menegakkan demokrasai participatory. Jika gerakan sosial ditahun 60-an memendam semangat “buruh menguasai industri” maka kelihatannya pikiran Anarcho-Syndicalisme masih hidup. Tetapi Anarkisme generasi tahun 60-an dan 70-an memprakarsai suatu perlawanan masif dan berskala global melalui aksi langsung dengan membentuk parlemen jalanan mempunyai agenda yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Gerakan anarkisme era tersebut menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa mereka menerima warisan pemikiran Bakunin tentang “pan-destructionisme” dimana mereka percaya bahwa sistim masyarakat yang ada saat itu sudah sangat rusak, korup dan munafik sehingga sudah tidak layak lagi untuk diperbaiki dan harus dibersihkan secara total.

Dari perbincangan ini, kita dapat memahami ternyata paham anarkisme tidak sesederhana yang selama ini diprsepsikan oleh banyak orang. Anarkisme juga memiliki anatomi dan bentuk gerakan yang bermacam macam. Menganggap tungal terhadap anarkisme yang sebenarnya beragam tersebut dapat memunculkan suatu kesalahpahaman yang tidak perlu. Karena memang paham anarkisme dalam perkembangannya pernah menjadi pendorong terhadap perubahan sosial menuju suatu masyarakat bebas dari otoritarianisme menuju pada suatu masyarakat egaliter, tanpa dominasi dan demokratis. Bahkan paham Anarkisme telah menjadi inspirasi terhadap lahirnya banyak karya sastra tentang kemanusiaan yang sangat berbudaya. Misalnya saja kritik Ivan Illich terhadap “sekolah” di awal tahun 70-an merupakan salah satu karya seorang anarkis yang memberi isnpirasi bagi berbagai upaya pembaharuan pemikiran dan metodologi pendidikan. Pendek kata sudah lama masyarakat luas menjadi semakin manusiawi dan beradab, justru karena inspirasi dari para pemikir anarkis.

Bagaimana masa depan Anarkisme? Pada saat ini rakyat secara global mnghadapi tantangan besar akibat dari menguatnya paham Neo-Liberalsime. Indikasi menguatnya paham ini telah mendorong tata ekonomi, politik, sosial dan budaya kedalam suatu zaman yang dikenal dengan era Globalisasi. Globalisasi yang merupakan suatu formasi sosial untuk pengintegrasian ekonomi nasional bangsa bangsa kedalam suatu sistim ekonomi Kapitalisme global, juga telah memincu munculnya gerakan anarkisme baru diawal abad ini. Proses Globalisasi yang memaksakan pembentukan sistim, tata relasi dunia baru ini membawa akibat semakin menguatnya institusi modal dan Negara-negara Kapitalis melalui WTO dan Lembaga Keuangan Internasional terdapat indicator telah membangkitkan semangat anarkisme lagi. Berbagai perlawanan rakyat secara global diberbagai tempat menentang WTO dan Bank Dunia menjadi saksi dari kebangkitan gerakan anarkisme lagi yang secara global dikenal yakni The World Bank dan International Monetary Fund (IMF). IMF inilah organisasi yang paling dianggap berkuasa di abad 20.

Justru pada era globalisasi inilah terdapat suatu gejala lahirnya kembali gerakan anarkisme global yang selama ini tidak banyak kedengaran. Globalisasi justru seakan membangunkan kaum anarkis dari tidur, atau paling tidak membangunkan gerakan sosial yang mendapat inspirasi dari kaum anarkis secara global, seperti gerakan anti WTO, gerakan anti Hutang seolah meneruskan gerakan Hijau, gerakan feminisme, gerakan masyarakat Adat ataupun gerakan rakyat kaum miskin kota dan sebagainya. Gerakan rakyat menentang pembangunan Dam dibeberapa tempat di Asia, seperti gerakan anti proyek pembangunan Dam Narmada di India tahun 1980-an, pada dasarnya merupakan suatu bentuk dari “New Social Movement” yang mendapat inspirasi dari pikiran anarkisme. Pada tahun 1992, gerakan untuk menyelamatkan Narmada ini berhasil mendesak Bank Dunia untuk mencabut dukungannya terhadap proyek tersebut. Gerakan yang “mewarisi sikap Kritis dan semangat anarkisme Mahatma Gandhi” ini adalah merupakan gerakan sosial yang menantang watak otoritarian kekuasaan negara dan sikap ekstraktif dari proses ekonomi yang dominan. Gerakan anarkisme yang dalam era itu juga disebut sebgai “New Social Movement” tumbuh dimana mana, dalam skala lokal, nasional, bahkan global.

Saat ini, sekali lagi kita menyaksikan suatu gerakan “koalisi global menentang WTO dan gerakan “Anti Hutang” Jubilee 2000, serta berbagai koalisi global menentang Bank Dunia, yang ditunjukkan dengan turunnya kembali kaum muda di jalan jalan kota-kota besar dunia setiap diselenggarakan pertemuan Globalisasi adalah fenomena resistensi sosial yang mengingatkan bangkitnya kembali gerakan anarkis atau bahkan terjaganya dari tidur panjang watak anarkis dari gerakan sosial. Gelombang sentimen untuk menentang watak dominasi Neo Liberalisme dan rezim Globalisasi yang mendunia saat ini, bukankah fenomena yang merupakan indikasi lahirnya kembali anarkisme. Masih banyak kasus yang saat ini tidak terungkap, bagaimana gerakan masyarakat di tingkat akar rumput melakukan resistensi terhadap Globalisasi yang pada dasarnya memiliki watak sebagai reinkarnasi pemikiran anarkisme. Misalnya saja gerakan para aktivis untuk membela para petani dari invasi budaya modernisasi pertanian revolusi hijau serta gerakan sosial untuk reformasi agraria dan hak hak petani (peasant rights) di Indonesia saat ini, apakah tidak dapat secara luas dianggap sebagai bangkitnya kembali falsafah anarkisme?.


Sumber tulisan : dhant.wordpress.com

Rabu, September 30, 2009

selametin skripsi!!!

SKRIPSI

PUNK FASHION STYLE
(Analisis Semiotika Terhadap Tanda-Tanda Visual
dalam Gaya Busana Komunitas Subkultur Punk di Sriwedari)



Diajukan guna Melengkapi Tugas-Tugas dan
Memenuhi Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Sosial

Oleh:
ARUM SUTRISNI PUTRI
D0204033

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Fashion atau gaya busana selalu identik dengan pakaian, rambut, make-up, aksesoris, sepatu, topi, tas dan segala pernak-perniknya. Gaya busana merupakan mode yang melengkapi kebutuhan sandang manusia. Ia hadir dalam berbagai bentuk, rupa, warna, dan material. Disadari atau tidak, gaya busana selalu menjadi bagian kehidupan manusia dari waktu ke waktu, dengan perputaran siklusnya.
Gaya busana dapat ditelaah dalam dua sudut pandang: sebagai kata kerja dan kata benda. Sebagai kata kerja, gaya busana merupakan proses kreativitas untuk menciptakan bentuk, membungkus suatu esensi dan fungsi dalam rupa yang tertata oleh unsur estetika. Sedangkan sebagai kata benda, gaya busana terlihat sebagai suatu hasil, sebuah wujud nyata dari nilai yang abstrak.
Gaya busana selalu berubah, agak sulit didefinisikan, bahkan seduktif. Gaya busana mempunyai kekuatan untuk mengubah sebuah citra dan membuat pernyataan sosial. Untuk beberapa orang, gaya busana adalah sebuah bentuk seni. Bagi yang lain, gaya busana hampir merupakan sebuah kepercayaan. Tapi bagi kebanyakan orang, gaya busana adalah sebuah metode penggunaan pakaian, aksesoris dan rambut untuk menunjukkan atau menyembunyikan sesuatu dalam diri seseorang.
Selama berabad-abad manusia, baik secara individual maupun secara kelompok, menggunakan gaya busana sebagai bentuk komunikasi non verbal untuk merepresentasikan jenis kelamin, lokasi, pekerjaan, status sosial, kekayaan dan hubungan kelompok. Gaya busana merupakan komunikasi simbolik akan jati diri individu atau kelompok. Tidak hanya dalam bentuk pakaian tetapi juga perlengkapan yang menyertainya seperti aksesoris, gaya/model rambut, dan body art.
Pada dasarnya, pakaian merupakan indikator yang tepat dalam menyatakan kepribadian dan gaya hidup seseorang yang mengenakan pakaian tertentu.1 Gaya penampilan menjadi petunjuk bagi orang lain dalam memberi penilaian –paling tidak  membentuk kesan pertama– sebagai informasi awal atas karakter pribadi seseorang. Gaya busana dijadikan patokan masyarakat kebanyakan sebagai cermin keseluruhan jati diri seseorang.
Dalam masyarakat modern, setiap manusia adalah performer. Manusia secara sadar berusaha menampilkan dirinya kepada orang lain sebaik mungkin. Erving Goffman menyebutnya sebagai self-presentation (penyajian diri). Dalam konsepsi psikologi humanistik, manusia bukan saja pelakon dalam panggung masyarakat, bukan pula pencari identitas, tetapi juga pencari makna. Lewat gaya pakaian, dandanan rambut, dan segala macam aksesoris yang menempel, termasuk selera musik ataupun pilihan-pilihan kegiatan yang dilakukan, semua adalah bagian dari pertunjukan kepribadian diri.2
Semua hal yang diperlihatkan lewat tubuh seperti: gaya pakaian, gaya rambut, serta aksesoris pelengkapnya, tidak hanya sekedar demonstrasi penampilan, tetapi juga demonstrasi ideologi.  Ada hubungan yang kompleks antara tubuh, gaya rambut, gaya busana dan identitas kepribadian yang ingin dikukuhkan oleh seseorang.
Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Punk dapat berarti jenis musik genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Punk identik dengan ideologi anti kemapanan. Gerakan yang dipelopori oleh anak-anak muda kelas pekerja ini segera merambah Amerika (dan dunia) yang mengalami masalah ekonomi yang dipicu oleh kemerosotan moral para tokoh politik serta tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi.
Muncul sebagai akibat dari situasi rekonstruksi perekonomian Inggris pasca Perang Dunia II, subkultur Punk mengukuhkan identitas dan mengkomunikasikan ideologi mereka tidak hanya melalui musik tetapi juga melalui gaya hidup termasuk gaya busana. Mereka mengeksplorasi segala yang melekat dan miliki untuk meneriakkan pemberontakan atas kemapanan yang ada.
Perilaku anti kemapanan kaum Punk terhadap budaya mainstream melahirkan prinsip “Do It Yourself”. Mereka mengisolasi diri, menolak segala yang mapan, industrial, dan massal. Dengan semangat kemandirian mereka menciptakan tren dan pasar tersendiri sebagai wujud ekspresi jiwa mereka untuk melawan pasar besar.
Eric Jaffe, salah seorang penulis menyebutkan, “Punk was a new music, a new social critique, but most of all, it was a new kind of free speech. (Punk adalah genre musik baru, sebuah kritik sosial, tapi lebih dari itu semua, ia adalah cara baru dalam kebebasan berpendapat”). Punk berusaha menyindir para penguasa melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, irama yang cepat dan menghentak.
Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes para demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.
Pelopor band punk generasi pertama adalah The Sex Pistols. Pada tahun 1977 The Sex Pistols meluncurkan single kedua mereka “God Save The Queen”. Usaha mencari simpati kerajaan? Justru sebaliknya, inilah ekspos mereka yang paling verbal untuk mencaci-maki kerajaan. Lihat saja bagaimana Jamie Reid mendesain cover single itu. Wajah Sang Ratu ditampilkan dalam dandanan punk, lengkap dengan tindikan pin di hidungnya.3 The Sex Pistols segera menjadi ancaman besar bagi sistem pemerintahan monarki di Inggris pimpinan Ratu Elizabeth pada masa itu. Dengan terang-terangan menghujat Sang Ratu, mereka mengibarkan bendera anarkisme dan mempropagandakan nihilisme.
Gaya busana Punk yang khas, simbol-simbol, dan tata cara hidup yang bersifat ironis merupakan bentuk fetisisme, adopsi, dan adaptasi dari kelompok-kelompok budaya lain yang lebih mapan. Punk mengapresiasikan perlawananan melalui bahasa ”pengingkaran” terhadap kode-kode sosial yang mapan. Secara semiotik, terjadi subversi terhadap bahasa, tanda-tanda, citra, pengalaman, yang dikomunikasikan secara kontras, baik melalui musik, gaya busana, bahkan gaya hidup. Dengan kata lain, Punk membangun identitas baru berdasarkan simbol-simbol “curian”.
Punk merupakan persekutuan mustahil dari aneka ragam tradisi musik yang dilegitimasi dengan gaya busana yang eklektik. Dengan kata lain, di awal kelahirannya punk teridentifikasi sebagai pemberontakan semiotik yang diaplikasikan pada musik dan gaya busana. Namun, gaya busanalah yang pertama kali digunakan sebagai simbol pengikat dalam komunitas punk.
Secara umum gaya busana punk dapat dikenali dengan mudah karena gaya ini sangat khas. Terdapat berbagai tanda visual yang jelas pada gaya punk. Mulai dari baju atau T-shirt (kaos) lusuh; kaos bergambar grup band punk; jaket penuh dengan spike atau paku; celana jins panjang maupun pendek ketat yang kumal dan sobek-sobek penuh dengan badge; sabuk rantai; sepatu boot; safety pins yang dikenakan di telinga, pipi, bibir; piercings; aksesoris lain seperti swastika, kalung anjing (choker), paku, peniti, rantai sepeda, gembok; hingga model rambut spike-top dan mohawk atau mohican. Kadang-kadang mereka mengecat rambut dengan warna-warna cerah seperti hijau menyala, pink, ungu, dan oranye.
Kini hampir 40 tahun subkultur punk berkembang pesat. Keberadaan media massa serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan infiltrasi dan pertukaran nilai-nilai budaya semakin global. Meskipun tidak dalam waktu yang bersamaan dan dengan kesadaran yang berbeda jauh dari konteks sejarah awalnya. Kaum muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dengan mudah mengadopsi nilai budaya punk yang ‘asli’ dari Inggris sana melalui kaset atau CD musik dan film.
Punk kini digemari oleh generasi muda. Industri tak mau melepaskan kesempatan ini. Punk pun diusahakan menjadi sebuah komoditas untuk dikomersilkan karena pasar menginginkannya. Komersialisasi menjadikan Punk populer dan bisa dinikmati siapa saja. Penghalusan yang dilakukan industri terhadap punk tersebut berakibat pada melemahnya makna isolasi diri dan pemberontakan. Inti dari punk menjadi sangat pop dan bisa dinikmati siapa saja, termasuk golongan mapan. Punk yang selama ini dicaci maki kini menjadi konsumsi kultural.
Dick Hebdige menggunakan istilah ‘proses penyembuhan’ untuk menyebut perubahan dalam punk masa kini. ‘Proses penyembuhan’ ini berlangsung dengan dua bentuk khas:4
a.diubahnya tanda-tanda subkultur (busana, musik, dan lain-lain) menjadi obyek produksi massal (yakni forma komoditas);
b.“pelabelan” dan redefinisi atas perilaku menyimpang, oleh kelompok dominan –polisi, media, peradilan (tegasnya, forma ideologis).
Punk jaman sekarang lebih tepat diidentifikasi sebagai punk modis, bukan punk ideologis, yang hanya mengikuti tren. Gaya busana punk yang sekarang menjadi tren, sebenarnya sudah jauh berbeda dari bentuk awalnya. Tetapi, semangat DIY (do it yourself) tetap terasa pada proses perkembangan gaya busana punk yang sekarang ini.
Berbagai tanda visual yang digunakan dalam dandanan bergaya punk memiliki kode estetik tertentu. Ada pesan-pesan yang dikomunikasikan secara non-verbal oleh komunitas subkultur punk melalui penampilan mereka. Fenomena tersebut membuat peneliti tertarik untuk mengetahui makna tanda-tanda visual punk yang dimanifestasikan melalui gaya busana mereka.
Dalam penelitian ini akan memperlihatkan suatu wujud budaya yang berupa alat komunikasi non verbal yang mempergunakan anggota tubuh dan aksesoris-aksesoris tertentu sebagai media komunikasinya. Pembahasan secara deskriptif kualitatif dengan kajian semiotika ini, diharapkan dapat mengungkap makna tanda-tanda visual dalam gaya busana punk sehingga dapat memahami punk lebih mendalam.

B.RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan dalam penelitian ini, yaitu:
“Bagaimana makna pesan tanda-tanda visual dalam gaya busana punk?”

C.Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan yaitu:
1.memperkaya kajian komunikasi non-verbal secara semiotik dalam disiplin ilmu komunikasi;
2.memberi sumbangan terhadap studi tentang simbol terutama yang berkaitan dengan makna tanda-tanda visual dalam gaya busana punk;
3.secara akademis, penelitian ini ditujukan sebagai syarat meraih gelar kesarjanaan penulis di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret.

D.Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang positif bagi perkembangan ilmu komunikasi, khususnya komunikasi non-verbal secara semiotik, terutama untuk bahasan mengenai makna tanda-tanda visual dalam gaya busana punk.
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wacana mengenai sisi lain dari subkultur punk yang keberadaannya sering kali dipandang aneh dan belum sepenuhnya diterima dalam masyarakat kita yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai lokal. Mengingat dandanan mereka yang unik dan aneh yang membuat mata setiap orang beranggapan kriminal, dan aktivitas mereka di jalan banyak menimbulkan penolakan dari masyarakat.

E.Obyek Penelitian
Penelitian ini mengambil obyek subkultur Punk. Punk merupakan gelombang kultur baru yang muncul di Inggris pada tahun 1970-an. Muncul sebagai bentuk perlawanan yang luar biasa hebat terhadap budaya mapan yang telah ada karena Punk menciptakan gaya hidup tersendiri. Stacey Thompson di dalam bukunya “Punk Productions; Unfinished Business” mengungkapkan bahwa secara historis punk dipengaruhi oleh empat unsur utama, yaitu musik,  gaya busana, geng/komunitas dan pergerakan (pemikiran).5
Dari keempat unsur tersebut peneliti mengambil unsur gaya busana sebagai obyek penelitian karena pakaian terlihat sebelum suara terdengar. Gaya busana adalah sebuah sistem tanda (signs). Cara berpakaian tidak hanya dilihat sebagai cara untuk menutup tubuh dengan pakaian guna menghindari udara dingin atau terik matahari. Cara berpakaian adalah sebuah tanda untuk membentuk citra tubuh, menunjukkan identitas seseorang, serta nilai budaya apa yang dianut. Pakaian tertentu berhubungan dengan perilaku tertentu.
Jadi, obyek yang dianalisis dalam penelitian ini adalah setiap tanda-tanda visual dalam penampilan seorang punker, meliputi: pakaian, tatanan rambut, riasan, sepatu dan aksesoris lainnya. Punker yang akan dijadikan sumber penelitian adalah punker yang ada di Sriwedari. Dengan pertimbangan bahwa komunitas punk di Sriwedari merupakan yang tertua di Surakarta. Selain itu Sriwedari dipilih karena faktor jarak yang relatif dekat.

F.Telaah Pustaka
1.Komunikasi
Pada hakekatnya, komunikasi adalah suatu proses sosial yaitu sesuatu yang berlangsung atau berjalan antarmanusia. Hubungan antar manusia ini dilakukan dalam rangka mengekspresikan diri dengan lingkungan dimana ia berada. Manusia sebagai makhluk sosial tentu saja menempatkan interaksi antar sesama sebagai sebuah kebutuhan dalam hidupnya. Dalam berinteraksi faktor komunikasi menjadi perhatian utama. Oleh karena itu komunikasi merupakan hal yang fundamental dalam kehidupan manusia.
Harold D. Laswell menyebutkan tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab perlunya manusia untuk berkomunikasi yaitu:6
a.hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya;
b.upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya;
c.upaya untuk melakukan transformasi warisan sosial.
Istilah “komunikasi” atau dalam Bahasa Inggris “communication” berasal dari kata Latin “communicatio” dan bersumber dari kata “communis” yang berarti sama.7 Dalam hal ini, maksud kesamaan tersebut adalah sama makna atau arti, yang diusahakan melalui penggunaan bersama tanda-tanda oleh para pelaku proses komunikasi, yakni komunikator dan komunikan. Jadi komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan.
Ada beberapa faktor yang berperan dalam komunikasi. Unsur-unsur tersebut ditampilkan pada bagan berikut:8
Acuan
Saluran Komunikasi

Pengirim Penerima

Pesan
Kode

Gambar 1. Bagan unsur-unsur komunikasi Vanoye Francis
Keterangan:
1)Pengirim adalah yang menyampaikan pesan, dapat terdiri dari satu orang (individu) maupun satu kelompok orang, misalnya suatu perusahaan, institusi, maupun pemerintah;
2)Penerima adalah yang menerima pesan, dapat terdiri dari satu individu saja, khalayak ramai, atau kelompok tertentu;
3)Pesan adalah obyek komunikasi, terdiri dari serangkaian informasi yang akan disampaikan;
4)Saluran komunikasi adalah sarana lalu lintasnya komunikasi. Kadang-kadang cukup dengan indera manusia (komunikasi langsung), kadang juga menggunakan alat teknik;
5)Kode adalah keseluruhan tanda dan aturan-aturan kombinasinya. Kode harus berdasarkan konvensi agar dapat dipahami oleh penerima;
6)Acuan adalah sesuatu yang diacu oleh pesan yang disampaikan kepada penerima. Acuan dapat berupa benda, orang, situasi maupun konteks. Acuan dapat bersifat situasional, dapat pula bersifat tekstual. Acuan situasional adalah sesuatu yang diacu oleh pengirim ketika dia berbicara secara langsung dengan penerima. Acuan tekstual adalah sesuatu yang hanya ada dalam konteks kebahasaan.
Proses komunikasi merupakan proses penyampaian pesan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pesan adalah basis dalam proses komunikasi, karena tanpanya komunikasi tidak akan bisa berlangsung. Pesan bisa membuat audiensnya bertambah pengetahuan, mendapatkan kepastian, berpandangan luas, berperasaan haru, gembira, dan berperilaku arif. Namun pesan pun bisa membuat audiensnya berpandangan sesat, salah, berperasaan benci, penuh prasangka, dan berperilaku konyol. Ini semua bisa terjadi tak lain karena isi pesan sangat tergantung pada bagaimana pesan diciptakan oleh komunikator atau produsen (media) dan bagaimana komunikan atau konsumen memaknainya.9
Menurut John Fiske, komunikasi adalah proses pembangkitan makna (generation of meaning).10 Dalam fenomena komunikasi, pesan dilihat bukan sekedar sesuatu yang dikirim dari A ke B, tetapi lebih dari itu merupakan suatu elemen di dalam struktur hubungan di antara elemen-elemen lain termasuk di dalamnya realitas eksternal, pengirim atau produser, dan juga pembaca atau reader.
Hubungan antar elemen tersebut digambarkan sebagai berikut:11
Message text
Meaning


Producer/Reader Referent

Gambar 3. Model Hubungan Antar Elemen dalam Proses Komunikasi

Tanda panah pada model di atas menunjukkan interaksi yang konstan di mana struktur bersifat dinamis, tidak statis.
John Fiske menegaskan bahwa komunikasi tidak dilihat hanya sebagai transmisi pesan, melainkan juga pada produksi dan pertukaran pesan, yaitu dengan memperhatikan bagaimana suatu pesan atau teks berinteraksi dengan masyarakat yang bertujuan memproduksi makna.12 Konsep ini menunjukkan bahwa pesan adalah susunan tanda-tanda yang menghasilkan makna. Karena itu, ‘teks’ dan bagaimana membacanya menjadi bagian yang penting dalam proses pemaknaan. ‘Membaca’ di sini adalah proses menemukan makna-makna ketika seseorang berhadapan dengan ‘teks’.
Dengan demikian, pengertian pesan selanjutnya mengacu pada pengertian makna, yang disampaikan secara verbal maupun non-verbal. Lawrence dan Schramm mengartikan makna sebagai jalinan asosiasi pikiran dan konsep yang diterapkan. Dr. Phil Astrid S. Susanto menyatakan, pesan hendaknya bisa dihayati oleh komunikan.
Proses komunikasi tersebut digambarkan sebagai berikut: 13
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000050000000c026100c901040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc02000000000102022253797374656d0000c9010000bcaf110072edc63078541e000c020000c9010000040000002d01000004000000020101001c000000fb02f0ff0000000000009001000000000440001254696d6573204e657720526f6d616e0000000000000000000000000000000000040000002d010100050000000902000000020d000000320aee01b40001000400b400e0017c024002206d0700040000002d010000030000000000
Gambar 1. Proses Komunikasi Model Schramm
Pesan yang disampaikan oleh sumber tidak akan memiliki arti jika penerima pesan tersebut tidak mempunyai kemampuan mengencode pesan tersebut, yang berarti memberikan makna atas pesan. Ketidakpahaman atas sebuah pesan yang disampaikan oleh sumber kepada penerima seringkali terjadi. Ini bukan berarti telah terjadi kegagalan dalam berkomunikasi.
Hal tersebut disebabkan oleh ranah lingkungan dari latar belakang sosial dan budaya yang berbeda antara kedua belah pihak. Karena aspek sosial dan budaya seseorang dalam menghadapi teks sangat berpengaruh. Sehingga perbedaan dalam memaknai suatu teks sangat mungkin terjadi pada orang-orang yang berlatar belakang sosial dan budaya yang berbeda.
Menurut David K. Berlo, seperti yang dikutip oleh Jalalludin Rakhmat, bahwa makna tidak terletak pada lambang-lambang tapi terletak pada pikiran setiap orang, pada persepsinya. Makna menurutnya terbentuk dari pengalaman individu.14
Definisi makna sendiri mengalami kerancuan di kalangan ilmuwan. Brodbeck kemudian memberikan pengertian makna dalam tiga corak, yaitu: 15
a.Makna inferensial, yaitu makna satu kata (lambang) adalah obyek, pikiran, gagasan, konsep yang dirujuk oleh kata tersebut.
b.Makna yang kedua menunjukkan arti (significane) suatu istilah sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep yang lain.
c.Makna intensional, yaitu makna yang dimaksud oleh seorang pemakai lambang, makna ini tidak dapat divalidasi secara empiris atau dicari rujukannya. Makna ini hanya terdapat pada pikiran orang dan hanya dimiliki oleh dirinya sendiri.
Proses komunikasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu :16
a.Proses komunikasi secara primer
Adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.
Gambar sebagai lambang yang banyak dipergunakan dalam komunikasi memang melebihi kial, isyarat, dan warna dalam hal kemampuan “menerjemahkan” pemikiran seseorang, tetapi tetap tidak bisa melebihi bahasa. Buku-buku yang ditulis dengan bahasa sebagai lambang untuk “menerjemahkan” pemikiran tidak mungkin digantikan oleh gambar, apalagi oleh lambang-lambang yang lainnya.
Akan tetapi demi efektifnya komunikasi, lambang-lambang tersebut sering dipadukan penggunaannya.
b.Proses komunikasi secara sekunder
Adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Media kedua digunakan oleh seorang komunikator dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan sebagainya.
Dapat dikatakan bahwa proses komunikasi sekunder ini merupakan sambungan dari komunikasi primer untuk menembus ruang dan waktu. Maka dalam menata lambang-lambang untuk memformulasikan isi pesan komunikator harus memperhitungkan ciri-ciri atau sifat-sifat media yang akan digunakan. Penentuan media yang akan digunakan sebagai hasil pilihan dari sekian banyak alternatif perlu didasari pertimbangan mengenai siapa komunikan yang akan dituju.
Setiap media yang digunakan memiliki ciri atau sifat tertentu, hanya efektif dan efisien untuk dipergunakan bagi penyampaian suatu pesan tertentu pula. Dengan demikian, proses komunikasi secara sekunder itu menggunakan media yang dapat diklasifikasikan sebagai media massa dan media nir massa.
Mengacu pada uraian di atas, terkait dengan makna pesan yang terkandung dalam gaya busana punk adalah termasuk dalam kajian proses komunikasi secara primer. Faktor utama yang memperkuat adalah tanda-tanda visual sebagai lambang dalam proses komunikasi tersebut. Tanda-tanda visual tersebut adalah pakaian, model rambut, riasan, sepatu dan aksesoris lainnya.
Ketika berkomunikasi kita menerjemahkan gagasan ke dalam bentuk lambing verbal dan non verbal.17 Jalalludin Rakhmat membagi pesan ke dalam dua bentuk yaitu pesan verbal/linguistik dan non verbal. Pesan verbal adalah pesan yang diucapkan dengan menggunakan kalimat dalam bahasa. Sedangkan pesan non verbal adalah pesan yang disampaikan dengan menggunakan cara-cara tertentu atau pesan paralinguistik dan juga pesan yang disampaikan dengan isyarat yaitu pesan ekstralinguistik.
Bentuk-bentuk komunikasi non verbal berupa bahasa tubuh, seperti gerak isyarat (dengan mata, tangan, atau anggota tubuh lainnya), tekanan suara, dan ekspresi wajah. Bentuk-bentuk penyampaian pesan tersebut dapat ditampilkan melalui media yang dikemas secara kreatif seperti fotografi, lukisan, musik, film, iklan, arsitektur, komik, dan busana.
Adapun fungsi dari pesan non verbal ada lima, yaitu:18
a.Repetisi, adalah mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misal: menggeleng-gelengkan kepala berkali-kali.
b.Substitusi, adalah menggantikan lambang-lambang verbal. Misal: menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-angguk.
c.Kontradiksi, adalah menolak pesan verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal. Misal: memuji prestasi tapi mencibirkan bibir.
d.Komplemen, adalah melengkapi dan memperkaya makna pesan non verbal. Misal: air muka menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak dapat dingkapkan dengan kata-kata.
e.Aksentuasi, adalah menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misal: mengungkapkan kejengkelan dengan memukul mimbar.
Pesan-pesan non verbal sangat penting dalam komunikasi, seperti yang dikatakan oleh Dale G. Leathers dalam Jalaludin Rakhmat. Ia menyebutkan alasan pentingnya pesan-pesan non verbal antara lain:
a.Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan melalui pesan non verbal ketimbang verbal;
b.Pesan non verbal memberikan informasi tambahan yang memperjelas maksud dan makna pesan (fungsi metakomunikatif) yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas;
c.Pesan non verbal merupakan cara yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal.19
Pesan non verbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan karena jarang bisa diatur oleh komunikator dengan sadar. Orang akan percaya pada pesan non verbal ketimbang pesan verbal ketika terjadi keraguan dalam suatu pembicaraan. Perilaku non verbal bersifat spontan, ambigu, sering berlangsung cepat, serta di luar kesadaran dan kendali.
Para ahli membagi komunikasi non verbal ke dalam lima kelompok, yaitu: komunikasi tubuh, komunikasi ruang, diam, paralanguage, dan komunikasi temporal waktu.20 Dari semua jenis komunikasi tersebut, komunikasi tubuh adalah yang paling penting. Karena dalam kehidupan manusia komunikasi tubuh paling sering digunakan.

2.Semiotika
Tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi. Tanda-tanda memungkinkan manusia berfikir, berkomunikasi dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Dalam ilmu komunikasi, pendekatan yang menjelaskan tentang penggunaan tanda-tanda dalam pesan komunikasi adalah semiotika. Semiotika memfokuskan perhatiannya terutama pada teks.
Analisis semiotik merupakan cara atau metode untuk menganalisis dan memberikan makna-makna terhadap lambang-lambang yang terdapat suatu paket lambang-lambang pesan atau teks. Teks yang dimaksud dalam hubungan ini adalah segala bentuk serta sistem lambang (signs) baik yang terdapat pada media massa (seperti berbagai paket tayangan televisi, karikatur media cetak, film, sandiwara radio, dan berbagai bentuk iklan) maupun yang terdapat di luar media massa (seperti karya lukis, patung, candi, monumen, gaya busana show, dan menu masakan pada suatu food festival). 21
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.22 Semiotika berusaha menggali sistem tanda yang beranjak keluar dari tata bahasa dan sintaksis, dan mengatur arti teks yang rumit, tersembunyi, dan bergantung pada kebudayaan.23
“Semiotika” berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti “tanda”. Dalam bahasa Inggris menjadi “semiotics”. Dalam bahasa Indonesia disebut “semiologi” atau “semiotika”. Semiotika didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau berfungsi sebagai tanda, maka hal itu berarti berada dalam suatu sistem pembedaan dan konvensi yang melatarbelakanginya.24 Semiotika adalah studi tentang tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya: cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda- tanda lain, pengirimnya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.25
Model-model proses linear tidak banyak memberi perhatian pada teks karena memperhatikan juga adanya tahapan lain. Inilah salah satu perbedaan utama di antara kedua pendekatan tersebut. Status penerima juga turut berpengaruh. Dalam semiotika, penerima dipandang meminkan peran yang lebih aktif dibanding dalam kebanyakan model proses (kecuali model Gerbner). Semiotika lebih suka memilih istilah “pembaca” untuk “penerima” karena secara tidak langsung menunjukkan derajat aktivitas yang lebih besar.
Tanda adalah sesuatu yang berdiri pada sesuatu yang lain atau menambahkan dimensi yang berbeda pada sesuatu, dengan memakai segala apapun yang dapat dipakai untuk mengartikan sesuatu yang lain.26
Daniel Chandler memberikan penjelasan menarik mengenai tanda:27
“We seem as spesies to be driven by a desire to make meanings: above all, we are surely Homo Significans –meaning makers. Distinctively, we make meaning through our creation and interpretation of ‘sign’. Indeed, according to Pierce, ‘we think only in signs’ (Pierce, 1931). Signs take the form of words, images, sounds, colours, flavours, acts, or object, but c\such things have no intrinsic meaning and become signs only when we invest them with meaning. ‘Nothing is a sign unless it is interpreted as a sign’, declares Pierce. Nothing can be a sign as long as someone interprets it as ‘signifying’ something –referring to or standing for something other than itself. We interpret things a signs largely unconsciously by relating them to familiar systems of conventions. It is the meaningful use of signs which is at the heart of the concern of semiotics.”

(Kita adalah spesies yang digerakkan oleh hasrat untuk membuat makna. Kita dalah Homo Significans –sang pembuat makna. Kita membuat makna dengan kreasi dan interpretasi kita terhadap tanda. Bahkan menurut Pierce (1931), ‘kita berpikir hanya dalam tanda’. Tanda bisa berbentuk kata-kata, gambar-gambar, suara-suara, aroma, gerakan, atau obyek, namun kesemuanya itu tidak memiliki makna di dalamnya dan hanya akan menjadi tanda jika kita memberinya makna. Tak ada tanda sampai ia ditafsirkan sebagai tanda, cetus Pierce. Semuanya bisa menjadi tanda sejauh seseorang menafsirkannya sebagai sesuatu yang menandai suatu obyek –merujuk pada atau mewakili yang lain di luar dirinya. Kita menafsirkan sesuatu sebagai tanda umumnya secara tidak sadar dengan menghubungkannya dengan suatu sistem yang paling kita akrabi hasil konvensi. Arti tanda inilah yang menjadi inti perhatian semiotika.)

Menurut John Fiske, area studi semiotika mencakup tiga hal yaitu:28
1.Tanda itu sendiri, yang berkaitan dengan beragam tanda yang berbeda, seperti cara mengantarkan makna serta cara menghubungkannya dengan orang yang menggunakannya. Tanda adalah buatan manusia dan hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang menggunakannya;
2.Kode atau sistem dimana tanda-tanda disusun, meliputi bagaimana beragam kode yang berbeda dibangun untuk mempertemukan dengan kebutuhan masyarakat dalam suatu kebudayaan;
3.Kebudayaan dimana kode dan tanda itu beroperasi.
Semiotika merupakan sinonim dari logika. Menurut Charles Sanders Pierce, logika mempelajari tentang bagaimana bernalar.29 Penalaran tersebut dilakukan melalui tanda-tanda. Menurut Pierce, makna lambang yang sebenarnya adalah mengemukakan sesuatu.30 Pierce mengemukakan gagasan bahwa elemen-elemen makna terdiri atas tanda (sign), obyek (object), dan interpretan. Segala sesuatu yang diacu oleh tanda (sign) disebut obyek (object), kemudian diinterpretasikan. Setelah tanda dihubungkan dengan acuannya, maka tanda yang orisinal menjadi lambang baru (interpretan).
Model elemen-elemen makna tersebut digambarkan sebagai berikut:31
Sign

Interpretant Object

Gambar 4. Model Hubungan Antar Elemen Lambang
Garis berpanah di kedua ujungnya menandakan bahwa setiap elemen hanya dapat dimengerti dalam hubungannya dengan elemen lainnya.
Tanda merujuk pada sesuatu yang lain di luar diri tanda, yaitu object, yang dimengerti oleh seseorang dimana tanda tersebut mempunyai efek di dalam pikiran pengguna tanda, atau disebut sebagai interpretant. Dengan demikian interpretan bukanlah pengguna tanda, tapi apa yang disebut Pierce sebagai ‘efek pengertian sebenarnya’. Interpretan adalah konsep mental yang diproduksi oleh tanda dan pengguna tanda terhadap suatu obyek. Sifat hubungan elemen-elemen tanda berubah-ubah (arbitrary). Prinsipnya, segala sesuatu yang menimbulkan kesan arti dapat pula berfungsi sebagai tanda.
Menurut Pierce hubungan antara tanda dan acuannya ada tiga, yaitu:32
a.Ikon
Ikon adalah hubungan kemiripan/kesamaan antara tanda dengan acuannya. Contoh: foto Presiden Soekarno adakah ikon dari Bung Karno, peta adalah ikon dari wilayah yang digambarkan, atau cap jempol adalah ikon dari jempol seseorang;
b.Indeks
Indeks adalah hubungan kedekatan eksistensi atau causal relationship antara tanda dan acuannya. Contoh: jejak kaki adalah tanda indeks dari orang yang melewati tempat itu, asap adalah indeks dari api;


c.Simbol
Simbol adalah hubungan antara tanda dan acuannya yang terbentuk secara konvensional (peraturan atau perjanjian yang disepakati bersama-sama), melalui kesepakatan atau pun sesuai aturan, namun juga dapat berubah-ubah sehingga perlu pengkajian lebih dalam. Simbol baru dapat dipahami jika seseorang sudah mengerti arti yang sudah disepakati bersama sebelumnya. Contoh: warna merah pada lampu lalu lintas, palang merah yang menunjukkan rumah sakit.
Trikotomi hubungan tanda dan acuan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:33
Tabel 1. Trikotomi Ikon/Indeks/Simbol Pierce
Tanda
Ikon
Indeks
Simbol
Ditandai dengan
Persamaan
(kesamaan)
Hubungan sebab akibat
Konvensi
Contoh
Gambar-gambar, patung-patung
tokoh besar
Foto Reagan
Asap/api
Gejala/penyakit
(bercak merah
/campak)
Kata-kata
isyarat
Proses
Dapat dilihat
Dapat diperkirakan
Harus dipelajari

Selain ketiga hubungan di atas masih ada beberapa konsep tambahan seperti sebagai berikut:
d.Metaphor, yaitu hubungan yang terjadi melalui pemindahan dari satu latar realitas ke dalam realitas yang lain.
e.Metonimy, yaitu hubungan yang terjadi melalui perhubungan makna di dalam latar realitas yang sama. Metonimy merupakan proses dengan menggunakan suatu imej untuk menciptakan suatu asosiasi di dalam pikiran pengamat. Dengan mengasosiasikan suatu obyek yang digunakan sebagai fokus perhatian untuk menciptakan suatu perasaan akan obyek tersebut, metonimy akan terbentuk.
Tanda yang dikaitkan dengan ground, dibagi Pierce menjadi:34
a.Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kata-kata kasar, keras, lemah,lembut, merdu;
b.Sinsign (Singular Sign) adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda, misalnya kata ‘kabur’ atau ‘keruh’ yang ada pada urutan kata ‘air sungai keruh’ yang menandakan bahwa ada hujan di hulu sungai.
c.Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda, misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia.
Dalam menganalisis makna dari lambang atau tanda (signs) erat kaitannya dengan tingkatan penafsiran. Penafsiran seringkali adalah sebuah makna yang keluar dari makna literal. Makna tersebut muncul dari sebuah pengalaman tertentu, dalam budaya tertentu, dan pada konteks tertentu. Untuk membahas lingkup makna yang lebih besar ini para ahli membedakan antara makna denotatif dan makna konotatif. Roland Barthes menggunakan istilah orders of significations.
Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian umum dengan yang dipahami Barthes. Dalam pengertian umum, ketika kita berbicara tentang denotasi, kita merujuk pada asosiasi primer yang dimiliki sebuah kata bagi kebanyakan anggota masyarakat linguistik tertentu, sedangkan konotasi merujuk pada asosiasi sekunder yang dimiliki sebuah kata bagi seorang atau lebih anggota masyarakat itu.35
Roland Barthes membedakan antara first orders significations dengan second orders significations. Denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi semata sedangkan makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah36.
Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja yang dapat dilihat pada tabel berikut ini:37
Tabel 2. Peta Tanda Roland Barthes

1. signifier (penanda)
2. signified (petanda)
3. denotative sign (tanda denotatif)
4. CONNOTATIVE SIGNIFIER (PENANDA KONOTATIF)
5. CONNOTATIVE SIGNIFIED (PETANDA KONOTATIF)
6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)
Tataran yang pertama atau tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda yang berbentuk tanda (2). Dari tanda tersebut muncul pemaknaan lain, sebuah konsep mental lain yang melekat pada tanda (yang kemudian dianggap sebagai penanda). Pemaknaan baru inilah yang kemudian menjadi konotasi.38 Jadi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif (penanda dan petanda) yang melandasi keberadaannya.
Secara ringkas, denotasi dan konotasi dapat dijelaskan sebagai berikut:39
a.Denotasi adalah interaksi antara signifier dan signified dalam sign, dan antara sign dengan referan dalam relitas eksternal. Denotasi dijelaskan sebagai makna sebuah tanda yang defisional, literal, jelas, (mudah dilihat dan dipahami) atau ‘commonsence’. Dalam kasus terhadap linguistik, makna denotative adalah apa yang dijelaskan dalam kamus.
b.Konotasi adalah interaksi yang muncul ketika sign bertemu dengan perasaan atau emosi pembaca atau pengguna nilai-nilai budaya mereka. Makna menjadi ‘subyektif’ dan ‘intersubyektif’. Istilah konotasi merujuk pada tanda yang memiliki asosiasi sosiokultural dan personal. Ini biasanya dikaitkan dengan kelas, umur, gender, etnik, dan sebagainya dari sang penafsir. Tanda lebih terbuka dalam penafsirannya pada konotasi daripada denotasi.
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebut sebagai ‘mitos’ yang berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda.
Gaya busana sebagai sebuah sstem tanda, seperti teori yang dikemukakan oleh Pierce, dapat dianalisa melakui tiga tahap, yaitu tahap sintak, semantik, dan pragmatik semiotik.40
a.Tahap Sintaks Semiotik
Analisa pada tahap ini menekankan perhatian utamanya pada hubungan antar tanda yang disebut sebagai studi tentang relasi antar tanda. Tahap ini bisa dikatakan sebagai tahap denotatif yaitu dengan mencatat semua tanda visual yang ada, termasuk warna.
b.Tahap Semantik Semiotik
Penekanan analisa pada tahap ini diajukan pada hubungan antar tanda, denotatum, dan interpretasinya. Denotatum tertentu yang mengacu pada tanda, konsekuensinya untuk interpretasi atau penelusuran makna. Tahap ini bisa disebut sebagai tahap konotatif. Ketika pada tahap denotatif kita membaca yang tersurat maka pada tahap ini kita membaca yang tersirat.
c.Tahap Pragmatik Semiotik
Analisa pada tahap ini menekankan pada hubungan antar tanda dan pemakaian tanda, yaitu dari objek ground ke interpretan. Tahap ini bisa disebut tahap ideologi, karena di sini kita memahami apa pandangan hidup dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Penerapan analisis semiotika akan membuka banyak peluang untuk menyingkap lebih banyak arti yang mendasari teks, yang secara keseluruhan daripada yang akan mungkin dilakukan dengan hanya mengikuti kaidah bahasa atau berpedoman pada arti kamus dan dari tanda-tanda yang terpisah. Cara ini mengandung manfaat khusus yang dapat diterapkan pada ‘teks’ yang mencakup lebih dari satu sistem tanda (misalnya kesan visual dan bunyi) untuk mana dan tidak ada tata bahasa yang ditetapkan dan kamus juga tidak menyediakan.41
Oleh karena semiotik dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis isi pesan media, Donald dan Virginia Fry menyebutkan tiga dalil utama yang dapat digunakan sebagai asumsi dasar bagi pendekatan ini, yaitu:42
a.Pesan media dapat menimbulkan banyak makna, sehingga teks dapat dimengerti dengan cara-cara yang bervariasi;
b.Pesan media mendapatkan maknanya melalui asosiasi yang dibuat audiens. Komunikasi dimungkinkan melalui konsensus tentang makna;
c.Makna pesan dipengaruhi oleh hal-hal yang terjadi di luar makna itu sendiri. Tanda-tanda yang digunakan dalam teks untuk memainkan peran guna membentuk makna, tetapi banyak unsur non tekstual turut mempengaruhi. Dalam hal ini teks akan terpengaruh pada tingkatan dimana, pertama, prosedur mengerti jenis-jenis isi yang akan membawa makna-makna khusus, dan kedua, teks aktual menekankan makna yang khusus di atas yang lainnya.

3.Budaya Populer dan Komersialisasi
Memasuki dekade 1930-an, karya budaya dikelompokkan menjadi dua lapisan, yaitu: 43
a.high culture adalah kebudayaan oleh dan untuk kalangan elit;
b.popular culture atau mass culture (budaya populer atau budaya massa) adalah kebudayaan oleh dan untuk kalangan orang kebanyakan (mass public). Dalam studi ini disebut dengan budaya populer atau budaya pop.
Signifikasi sosial budaya populer di jaman modern dapat dipetakan berdasarkan bagaimana budaya populer itu didefinisikan melalui gagasan budaya massa. Lahirnya media massa dan meningkatnya komersialisasi budaya dan hiburan menimbulkan berbagai permasalahan, kepentingan, sekaligus pendekatan yang masih ada sampai sekarang.
MacDonald (1957) mengatakan bahwa seni rakyat lahir dari bawah. Ia mirip sesuatu ekspresi spontan dan asli dari rakyat kebanyakan, dibentuk oleh mereka sendiri, untuk memenuhi kebutuhan mereka. Budaya massa diciptakan oleh para ahli yang direkrut oleh para usahawan. Khalayaknya adalah para konsumen pasif, peran serta mereka terbatas pada membeli atau tidak membeli. Seni Rakyat adalah pranata rakyat sendiri, taman kecil pribadi mereka yang terlindung dari taman resmi nan agung Budaya Tinggi sang tuan. Budaya massa menghancurkan dinding pembatas itu, mengintegrasikan massa ke dalam suatu bentuk budaya tinggi yang diturunkan nilainya.44
Budaya sebagai komoditas dipandang sebagai sesuatu yang tidak autentik, manipulatif dan tidak memuaskan. ‘Budaya massa’ kapitalis yang terkomodifikasi tidak autentik karena tidak dihasilkan oleh ‘masyarakat’, manipulatif karena tujuan utamanya adalah agar dibeli, dan tidak memuaskan karena, selain mudah dikonsumsi, ia pun tidak mensyaratkan terlalu banyak kerja dan gagal memperkaya konsumennya.45
Budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan pada khalayak konsumen massa untuk mendapatkan keuntungan. Budaya massa adalah budaya populer yang diproduksi untuk pasar massal. Pertumbuhan budaya ini berarti makin sempitnya segala jenis kebudayaan yang tidak dapat menghasilkan uang, yang tidak diproduksi secara massal bagi massa seperti kesenian dan budaya rakyat.
Kita menganggap bahwa industrialisasi dan urbanisasilah yang melahirkan massa yang diatomisasi dan tanpa nama, yang tak lain adalah buah manipulasi, sebuah pasar massal bagi media massa yang hanya bisa dipenuhi oleh bermacam-macam bentuk budaya massa. Proses-proses tersebut memerlukan adanya industri-industri produksi massal dan pasar massal yang sekaligus mendorong penyebaran budaya massa. Dalam pendekatan ini, penentu utama budaya massa adalah keuntungan produksi dan pemasaran yang dapat dihasilkan dari potensi pasar massalnya. Jika budaya massa tidak bisa menghasilkan uang mungkin tidak akan diproduksi.46
Teori budaya massa cenderung memandang khalayak sebagai sebuah massa yang pasif, rentan, bisa dimanipulasi, bisa dieksploitasi, sentimental, bersifat melawan tantangan maupun rangsangan intelektual, menjadi sasaran empuk bagi konsumerisme dan iklan maupun impian dan fantasi yang harus mereka jual, yang secara tidak sadar dirasakan sebagai selera buruk dan seperti robot pencurahannya terhadap rumusan berulang budaya massa.
Meskipun produksi budaya populer (musik, film, televisi, gaya busana) ada di tangan perusahaan kapitalis, namun makna selalu diproduksi, diubah dan diatur oleh konsumen massa. Anak-anak muda sebagai konsumen massa dari produk fashion bukanlah orang dungu yang pasif melainkan produsen aktif makna yang tengah melakukan pemilahan. Generasi muda merupakan produsen aktif makna, terutama komunitas subkultur yang menampik segala makna dari budaya dominan.
Subkultur generasi muda ditandai dengan kepedulian terhadap gaya. Kreativitas mereka adalah aspek integral dalam proses transformasi gaya. Pengkombinasian elemen-elemen gaya ke dalam suatu kumpulan yang unik memunculkan makna-makna baru yang menghapus makna asalnya yang sederhana. Secara internal, pakaian, penampilan, bahasa, ritual, mode, interaksi, dan jenis musik memiliki keterpaduannya sendiri. Dengan demikian, konsumsi budaya massa oleh subkultur sebenarnya merupakan akibat dari praktek-praktek kreatif anak-anak muda.
Subkultur generasi muda tampil sebagai tanggapan otentik terhadap intensifikasi pasar dan ketidakpeduliannya terhadap pandangan hidup sebelumnya. Akan tetapi, pertahanan tersebut diidentifikasikan sebagai bagian dari subkultur generasi muda yang dilakukan untuk secara berkesinambungan, dipulihkan melalui proses komersialisasi maupun proses pendefinisian ulang dalam media, baik melalui penghukuman dan penciptaan kepanikan moral, maupun normalisasi perilaku tertentu sebagaimana umumnya anak muda.
Dalam dunia yang secara komersial saling memangsa saat ini, subkultur tak dapat lagi eksis. Mereka tidak lama lagi akan ditelan seluruhnya oleh budaya konsumen kontemporer. Gejala komersialisasi budaya populer telah mengakibatkan matinya subkultur generasi muda. Komersialisasi membuatnya tidak mungkin melanjutkan otentisitas dan makna perlawanan tidak lagi laku dijual kepada anak muda. Punk yang dipandang sebagai budaya generasi muda otentik yang terakhir tampak seperti titik-titik akhir sejarah.

4.Gaya Hidup dan Citra
David Chaney berasumsi bahwa gaya hidup (lifestyle) merupakan sebuah ciri dari dunia modern atau modernitas. Gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lain.47 Gaya hidup adalah istilah menyeluruh yang meliputi cita rasa seseorang di dalam fashion, mobil, hiburan dan rekreasi, bacaan, dan hal-hal yang lain.48
Dalam ranah psikologi, gaya hidup umumnya dipahami sebagai tata cara atau kebiasaan pribadi dan unik dari individu. Ia dipahami sebagai adaptasi aktif individu terhadap kondisi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk menyatu dan bersosialisasi dengan orang lain. Sedangkan dari sudut pandang ilmu sosial, gaya hidup adalah tata cara hidup yang mencerminkan sikap-sikap, nilai, dan norma kelompok sosial tertentu.
Ada beberapa sifat umum gaya hidup, yaitu:49
a.gaya hidup sebagai sebuah pola, yaitu sesuatu yang dilakukan atau tampil secara berulang-ulang;
b.yang mempunyai massa (atau pengikut) sehingga tidak ada gaya hidup yang bersifat personal;
c.mempunyai daur hidup (life-cycle), artinya ada masa kelahiran, tumbuh, puncak, surut, dan mati.
Dengan kata lain, gaya hidup dikaitkan sesuatu yang secara relatif bertahan lama (durable) di dalam masyarakat.
Dalam merumuskan gaya hidup, Nas dan v.d. Sande menggunakan pendekatan analitis dan sintesis. Lewat pendekatan yang pertama gaya hidup dirinci menjadi ke dalam lima dimensi (Susianto, 1993:59):50
a.Morfologi
Sebagai aspek lingkungan dan geografi dari gaya hidup, dimensi ini melihat sejauh mana individu menggunakan kota dan fasilitasnya. Dari dimensi ini dapat kita lihat, misalnya, apakah aktivitas individu itu terbatas pada suatu bagian kota tertentu saja, ataukah aktivitasnya melibatkan segala fasilitas perkotaan yang ada, sesuai dengan jenis barang yang dicari;
b.Hubungan sosial
Dimensi ini menggali pola hubungan sosial individu;
c.Domain
Lewat dimensi ini diperoleh informasi mengenai aktivitas yang ditekankan di dalam jaringan sosial;
d.Makna
Dimensi ini menggali bagamana individu memberi makna pada kegiatan-kegiatannya;
e.Style
Dimensi yang menampilkan aspek lahiriah dari gaya hidup ini menggunakan simbol-simbol, dan memberikan nilai simbolik pada obyek-obyek di sekitarnya.
Sebuah gaya hidup bisa menjadi populer dan diikuti oleh banyak orang. Sifat unik dari gaya hidup tak lagi dipertahankan. Orang tak segan-segan mengikuti gaya hidup yang dianggap baik oleh banyak orang. Beberapa kritikus memandang pengadopsian gaya hidup tertentu oleh banyak orang sebagai indikasi dari masifikasi, permassalan yang disebabkan oleh ketidakmampuan mereka menemukan jati dirinya. Beberapa yang lain menilai gejala penularan gaya hidup sebagai keberhasilan kapitalisme mempengaruhi para konsumennya untuk menggunakan produk-produk massal demi keuntungan para kapitalis sebagai produsen.51
Gaya hidup sebagai pembeda kelompok akan muncul dalam masyarakat yang terbentuk atas dasar stratifikasi sosial. Setiap kelompok dalam stratum sosial tertentu akan memiliki gaya hidup yang khas. Dapat dikatakan bahwa gaya hidup inilah yang menjadi simbol prestise dalam sistem stratifikasi sosial. Dengan kata lain, gaya hidup dapat dipandang sebagai ‘KTP’ bagi keanggotaan suatu stratum sosial. Untuk menangkap gaya hidup ini dapat kita lihat dari barang-barang yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang bisanya bersifat modis, cara berperilaku (etiket), sampai bahasa yang digunakan tidak untuk tujuan berkomunikasi semata-mata, tetapi juga untuk simbol identitas.52 Sederhananya, gaya menunjukkan pakaian, dan gaya hidup digunakan untuk menggambarkan bagaimana seseorang berpakaian.53
Ada hubungan timbal balik yang tidak dapat dipisahkan antara citra (image) dengan gaya hidup. Gaya hidup sebagai cara manusia memberikan makna pada dunia kehidupannya, membutuhkan medium dan ruang untuk mengekspresikan makna tersebut, yaitu ruang bahasa dan benda-benda, yang di dalamnya citra mempunyai peran yang sangat sentral. Di pihak lain, citra sebagai sebuah kategori di dalam relasi simbolik di antara manusia dan dunia obyek, membutuhkan aktualisasi dirinya ke dalam berbagai dunia realitas, termasuk dunia gaya hidup.
Thomas W. J. Mitchel, membedakan beberapa kelas citra, yaitu:54
a.Citra grafis adalah citra yang dibentuk oleh elemen-elemen visual yang konkret di dalam ruang-waktu (garis, bentuk, bidang, warna, tekstur), seperti: gambar, patung, arsitektur;
b.Citra optik adalah citra refleksi dari sebuah obyek yang konkret pada sebuah cermin, yang elemen-elemen visualnya tidak menempati ruang-waktu yang konkret;
c.Citra perseptual adalah penampakan visual sebuah obyek sebagaimana ia hadir di dalam pikiran seseorang, berupa sense datum.
d.Citra mental adalah elemen-elemen visual yang hadir di dalam dunia mental (pikiran), dan belum tentu ada di dalam ruang-waktu yang konkret, seperti mimpi, memori, ide, fantasi.
e.Citra verbal adalah elemen-elemen yang bersifat linguistik, yaitu gambaran atau lukisan yang hadir ketika bahasa verbal digunakan, baik dalam bentuk deskripsi maupun metafora.
Terkait dengan gaya hidup, ia terbangun dari tiga tipologi citra, yaitu: citra grafis (gambar, layar televisi, pakaian), citra perseptual (obyek: pakaian, mobil), dan citra optik (televisi, film). Citra-citra tersebut merupakan perumus gaya hidup, yaitu bagaimana ia digunakan oleh kelompok-kelompok gaya hidup untuk menyatakan dirinya.

5.Gaya busana dan Identitas
Kata “fashion” dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “busana” yang berasal dari bahasa Sansekerta “Bhusana” yang berarti perhiasan. Akan tetapi pada jaman sekarang di Indonesia gaya busana atau busana diartikan sebagai pakaian yang indah.55
Gaya busana bisa dipandang dari berbagai sisi, tergantung kebutuhan masing-masing:56
1.Gaya umum atau konvensional, dalam berpakaian atau berperilaku;
2.Sesuatu, seperti garmen yang sedang menjadi mode terkini;
3.Karakteristik gaya dari elit sosial.
Menurut Desmond Morris (1977), ada tiga fungsi mendasar pakaian yang dikenakan manusia, yakni: memberikan kenyamanan, sopan santun, pamer (display). 57
Setiap bentuk dan jenis pakaian apapun yang dikenakan oleh seseorang, baik secara gamblang maupun samar-samar, akan menyampaikan penanda sosial (social signals) tentang si pemakainya. Pakaian merupakan bahasa diam (silent language) yang berkomunikasi melalui pemakaian simbol-simbol verbal. Pada dasarnya, pakaian merupakan indikator yang tepat dalam menyatakan kepribadian dan gaya hidup seseorang yang mengenakan pakaian tertentu.58
Setiap orang punya persepsi mengenai penampilan fisik seseorang, baik itu busananya (model, kualitas bahan, warna) dan juga ornamen lain yang dipakainya, seperti kaca mata, sepatu, tas, jam tangan, kalung, gelang, cincin, anting-anting, dan sebagainya. Seringkali orang juga memberi makna tertentu pada karakteristik fisik orang yang bersangkutan seperti bentuk tubuh, warna kulit, model rambut, dan sebagainya. Nilai-nilai agama, kebiasaan, tuntunan lingkungan (tertulis atau tidak), nilai kenyamanan dan tujuan pencitraan, semua itu mempengaruhi cara kita berdandan.59
Sebagian orang berpandangan bahwa pilihan seseorang atas pakaian mencerminkan kepribadiannya, apakah ia orang yang konservatif, religius, modern, atau berjiwa muda. Tidak dapat pula dibantah bahwa pakaian, seperti juga rumah, kendaraan dan perhiasan, digunakan untuk memproyeksikan citra tertentu yang diinginkan pemakainya.60
Pada awalnya, gaya busana bermakna sebagai sebuah proses pembentukan dan pematangan image sesuai karakter yang ada; orang per orang, individu per individu, bangsa per bangsa. Kualitas karakter dan keunikan setiap manusia dikukuhkan melalui gaya busana mereka. Aktivitas gaya busana merupakan upaya sekaligus hasil adaptasi manusia dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Manusia secara langsung "dimanusiakan".
Namun, makna gaya busana saat ini telah bergeser jauh karena kehilangan idealismenya. Gaya busana yang sekarang lebih mengutamakan image yang dibentuk. Image bentukan adalah konsep yang sudah dibuat dan disebarluaskan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, seperti industri. Manusia secara tidak langsung “diseragamkan”.
Anthony Synott (1993) berhasil memberikan penjelasan yang bagus tentang rambut. Dalam beberapa hal, rambut tidak sekedar berarti simbol seks penanda laki-laki dan perempuan. Ia juga simbol gerakan politik kebudayaan tertentu. Menurutnya, model rambut yang berbeda menandakan model ideologi yang berbeda pula.
Banyak subkultur atau komunitas mengenakan busana yang khas sebagai simbol keanggotaan mereka dalam kelompok tersebut. Punkers atau kaum punk atau yang biasa disebut dengan anak punk akan dengan bangga mengenakan berbagai atribut sebagai ciri bahwa mereka adalah bagian dari gaya hidup komunitas yang mereka ikuti. Pakaian, khususnya modelnya jelas mengkomunikasikan sesuatu.
Pemasangan badge pada pakaian baik border atau sablon, pin, sticker, kaos, juga merupakan salah satu cara untuk mengatakan kepada khalayak bahwa mereka mempunyai simbol-simbol tertentu sebagai identitas komunitas mereka. Pemasangan aksesoris tersebut bisa juga dikatakan sebagai tanda atau status mereka di komunitas tersebut. Orang yang mempunyai status tertentu kerap kali dihubungkan dengan gaya hidup.61

6.Punk
Apa yang dimaksud dengan punk, mungkin susah untuk dicarikan padanannya. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, Punk hanya diartikan sebagai anak muda yang tak berpengalaman. Punk sebenarnya istilah slang untuk penjahat atau perusak dan karenanya salam sapa mereka acap kali diawali dan diakhiri dengan kata “destroy!” (hancur atau rusak).
Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris, tempat kelahiran punk, pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Embrio punk berasal dari hidup yang serba gamang. Banyak anak yang dilahirkan tanpa ayah karena meninggal dalam Perang Dunia II. Mereka menyalahkan pemerintah yang telah menggiring ayah-ayah mereka ke medan perang. Di Amerika, situasi diperkeruh lagi oleh Perang Vietnam.
Situasi itu menumbuhkan generasi bunga (flower generation). Mereka berdemonstrasi di jalanan dengan membagi-bagikan bunga dan berbusana motif bunga. Momentum ini menandai kelahiran kaum hippies. Gaya hidup hippies membawa nilai-nilai baru: antimiliter, antiperang, antigereja, dan bahkan anti-norma seks puritan. Ketika protes menemui jalan buntu, mereka tenggelam dalam kesendirian dan apatisme.
Merebaknya gaya hidup hippies ditandai oleh pemuda berbusana celana berpipa ekstra lebar dengan motif menyala, mengenakan manik-manik, sandal, jaket, atau mantel bulu. Mereka membiarkan rambutnya panjang tergerai. Sebagian di antaranya memelihara kumis dan jenggot. Mereka pun dekat dengan segala jenis aktivitas madat, mulai dari heroin sampai ganja.
Kecenderungan hidup semacam itu menimbulkan reaksi kaum muda lain. Muncul generasi baru yaitu kaum skinhead. Kepala mereka botak, atau sedikitnya cepak, bercelana jins pudar yang digulung sampai mata kaki hingga sepatu larsnya kelihatan. Di dalam benak mereka, tertanam prasangka bahwa gaya hidup hippies telah membawa masyarakat pada sikap pasif.
Kaum muda Inggris lain, yang juga anti-kemapanan, berramai-ramai mencukur rambut. Tak sampai gundul habis, di tengah-tengahnya disisakan jambul, yang disebut mohawk, atau kadang disebut gaya mohican. Sebagian lagi menatanya dalam spike-top, gaya rambut berduri-duri. Sementara perempuan punk lebih suka menata rambut mereka dalam gaya warna-warni yang umumnya berwarna cerah: hijau muda, kuning, ungu, merah muda.
Punk muncul sebagai bentuk reaksi masyarakat yang kondisi perekonomiannya lemah dan pengangguran di pinggiran kota-kota Inggris, terutama kelompok anak muda, terhadap kondisi keterpurukan ekonomi sekitar tahun 1976-1977. Kelompok remaja dan kaum muda ini merasa bahwa sistem monarkilah yang menindas mereka. Dari sini muncul sikap resistensi terhadap sistem monarki.
Awal 1970-an, Punk meluas ke seantero Inggris, dengan dandanan semakin lengkap. Yang paling top tentu saja peniti cantel (safety pins) yang ditusukkan ke daun telinga, hidung, atau malah pipi. Celana jins dibiarkan menjurai apa adanya, bahkan disobek di beberapa bagian. Untuk mendapatkan efek fashion, mereka kadang-kadang mengenakan rantai atau kalung anjing, salib, bahkan swastika Nazi. Pakaian yang digunakan adalah sebuah aplikasi dari apa-apa yang oleh masyarakat normal dianggap tidak berguna lagi. Dengan kata lain hal itu salah satunya adalah salah satu bentuk penolakan terhadap konsep masyarakat dimana keadaan sosial diatur secara utuh oleh kepentingan pasar.
Dandanan yang memedihkan mata itu mengundang banyak cemoohan. Mereka dituding anti-fashion. Di luar dugaan, orang-orang punk menerima tudingan itu dengan gegap-gempita. Bagi mereka, lebih baik dituding demikian ketimbang diri mereka terseret-seret oleh selera umum. Bagi mereka, dalam fashion atau apapun, kemandirian jadi kata kunci. Do-it-yourself, itulah slogan mereka yang paling terkenal.
Punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyeleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para performer berkualitas rendah, dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan harus disertai dengan hebohnya pemikiran. 
Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, antikemapanan, antisosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.
Ketika punk dianggap habis, Madonna tampil dalam aksen punk ketika mengadakan konser “Blond Ambition Tour” pada tahun 1990. Sekali waktu, make up artis Jean Paul Gaultier mendandani Madonna dalam busana jaring ala goths, rambut berwana, lengkap bibir merah merekah, khas busana punk perempuan di masa awal kemunculan Punk.
Di belahan lain, ekshibisi mode sepanjang awal tahun 2000 memamerkan punk tanpa harus membawakan pesan-pesan kebencian dan arogansi. Mereka menyebutnya sweet punk.
Dalam terminologi ini, rantai anjing, peniti dan kunci gembok, tak lagi pakem. Kalau pun harus dihadirkan, elemen-elemen tersebut tak perlu harus berbahan besi dan baja, tapi cukup imitasi plastik sekadar untuk memberi aksen. Berkhianat atau tidak, itulah yang dimanifestasikan perancang-perancang ternama dalam berbagai medium, sejak produk barang kulit Narciso Rodriguez untuk Loewe sampai jaket terbalik John Galliano untuk Christian Dior. Mereka melestarikan punk dalam kosmologi yang mereka yakini. Punk ditampilkan lebih modis, lebih manis, minus sumpah-serapah.
Di belahan lain, sweet punk pun mewujud pada dandanan androgini seperti diperlihatkan David Bowie atau Culture Club. Nada dasarnya, sambil menentang kemapanan, mereka berusaha untuk meyakinkan dunia bahwa apa yang digunakan perempuan bisa dipakai laki-laki. Gaya glam lahir di sini, bersamaan dengan bermetamorfosanya musik punk ke dalam pop, yang kemudian dikenal sebagai new wave.
Konsep pemberontakan semiotika melalui gaya busana (fashion) menjadi gagal, karena bermunculan punker yang menganggap bahwa pakaian adalah segalanya dalam punk. Pada akhinya justru pakaian bergaya punk tersebut menjadi tidak lebih dari sebuah komoditi tersendiri. Kegagalan hal ini juga diperkuat oleh kondisi dimana t-shirt dengan desain yang radikal dapat didapatkan dengan mudah di mall-mall besar yang terkenal dengan harga yang begitu menjulang. Revolusi sudah diubah maknanya menjadi sekedar alat pengeruk uang.
Dave Greenler berkata, "Saat ini punk sudah terlalu meluas tapi bukan untuk kebaikannya sendiri. Punk sudah berhenti menjadi pemberontakan. Band-band seperti Endpoint menerima sponsor dari Vans, band seperti Green Day dan Descendent dan ratusan band-band pop-punk lainnya menyerah dari revolusi dengan lagu-lagu yang bercerita mengenai gadis-gadis mereka atau kemarahan remaja biasa. Mungkin memang sudah saatnya punk menghancurkan dirinya sendiri, untuk kemudian mencari dan muncul kembali sebagai sebuah bentuk yang baru…"

G.Metodologi Penelitian
1.Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat interpretatif kualitatif. Interpretatif, sebab dalam penelitian ini menggunakan pendekatan subyektif yang mengasumsikan bahwa pengetahuan bersifat tidak tetap melainkan bersifat interpretif.62 Kulitatif, karena jenis penelitian dengan analisis semiotik ini memberi peluang yang besar bagi dibuatnya interpretasi-interpretasi alternatif.63 Data dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yang kurang bersifat bilangan. Obyek penelitian tidak diukur secara kuantum melainkan disusun secara kategori subtantif yang kemudian diinterpretasikan dengan rujukan dan acuan-acuan serta referensi-referensi ilmiah. Tujuan penelitian kualitatif bukan untuk mencari sebab akibat sesuatu, tetapi lebih berupaya memahami situasi tertentu.
Guna memperjelas konsep dasar penelitian kualitatif berikut beberapa masalah dasar yang berhubungan erat dengan penelitian ini:64
a.Teori yang digunakan tidak dapat ditentukan sebelumnya. Penelitian tidak bertujuan menguji teori atau membuktikan kebenaran suatu teori. Teori itu dikembangkan berdasarkan data yang dikumpulkan.
b.Tidak ada pengertian populasi dalam penelitian ini. Sampling adalah pikiran peneliti, aspek apa, dari peristiwa apa, dan siapa yang dijadikan fokus pada saat dan situasi tertentu dan karena itu dilakukan terus sepanjang penelitian. Sampling purposive, yaitu tergantung pada tujuan fokus, pada suatu saat.
c.Instrument penelitian tidak bersifat eksternal akan tetapi bersifat internal, yaitu peneliti sendiri tanpa menggunakan tes, eksperimen atau angket. Instrumen dengan sendirinya tidak berdasarkan aspek-aspek yagn khas yang berulang kali terjadi, yang berupa pola atau tema itu senantiasa diselidiki lebih lanjut dan lebih dalam.
d.Analisis data bersifat terbuka, open ended, dan induktif. Dikatakan terbuka karena terbuka untuk perubahan, perbaikan, penyempurnaan berdasarkan data baru yang masuk.
e.Hipotesis tidak dirumuskan pada awal penelitian karena tidak ada maksud menguji kebenaran. Namun sepanjang penelitian selalu akan timbul hipotesis-hipotesis sebagai pegangan data untuk mengetahui datanya.
f.Statistik tidak diperlukan dalam pengolahan dan penafsiran data, karena datanya tidak bersifat kuantitatif melainkan kualitatif yang tidak dapat dinyatakan dengan angka-angka.
g.Hasil penelitian tidak bisa dirumuskan atau dipastikan sebelumnya sebab akan banyak hal-hal yang terungkap yang tidak diduga sebelumnya sebagai hal-hal yang baru. Oleh sebab itu, dalam penelitian selalu terbuka kemungkinan discovery atau penemuan.

2.Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan dalam menganalisis gaya busana punk adalah pendekatan ekletik, dimana pendekatan Pierce dan Barthes digunakan secara bersamaan untuk saling melengkapi sehingga semakin memperkaya kajian yang dilakukan.
Pendekatan Pierce digunakan sebagai pendekatan mayor sedangkan pendekatan Barthes digunakan sebagai pendekatan minor. Pendekatan Pierce digunakan sebagai pendekatan mayor karena dapat diterapkan untuk pemaknaan pada segala macam tanda secara umum. Sementara pendekatan Barthes dalam penelitian ini digunakan untuk mengkaji tanda-tanda visual sebagai sistem signifikasi tingkat kedua atau konotasi.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini adalah:65
a.Penelitian dengan metode analisis semiotika hanya berhadapan dengan “teks” atau lambang-lambang. Oleh karenanya observasi yang bersifat partisipan tidak dimungkinkan untuk dilakukan dalam penelitian ini, mengingat isi media tidak dapat diwawancara atau diajak berdialog.
b.Dalam tahap penyusunan pertanyaan dalam penelitian metode analisis semiotika pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud lebih bersifat paradigmatik berkenaan dengan “teks”. Ini juga berarti pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan sangat tergantung pada jenis “teks”.
Oleh karena pendekatan analisis semiotika lebih bersifat interpretatif kualitatif, maka secara umum pengaplikasiannya mengikuti alur prosedur yang lazim dipakai dalam metode penelitian kualitatif. Berikut ini adalah alur prosedur penelitian kualitatif, yang diberikan oleh Hb. Sutopo, diadaptasi dari alur prosedur yang diciptakan J. P. Spredely:66

Pengumpulan data


Menyusun pertanyaan-pertanyaan Menyusun catatan-catatan
yang berkenaan dengan teks hasil


Analisa data teks
Pemilihan studi
tentang teks
penulisan laporan penelitian
dengan pendekatan analisis semiotika

Gambar 4. Alur prosedur penelitian kualitatif Hb. Sutopo

Spredely mengemukakan, prosedur alur siklus tersebut dimulai dari pemilihan tentang teks, yang tidak lain adalah pemilihan topik atau masalah penelitian (bersifat deskriptif, melacak gejala-gejala dengan pokok pertanyaan ‘bagaimana’). Dari sini kemudian peneliti merumuskan atau menyusun pertanyaan-pertanyaan yang terarah pada penemuan jawaban atas masalah sebagaimana telah ditentukan dalam pemilihan studi.67
Dengan berbekal pertanyaan-pertanyaan tadi peneliti lalu mengumpulkan data dan melakukan pengamatan. Kemudian data dianalisis. Dalam tahap analisis ini, peran informasi kepustakaan sangat menentukan oleh karena dari sinilah acuan, rujukan, dan referensi diperlukan untuk mengomentari data yang ada. Prosedur Spredely ini juga memungkinkan peneliti untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan baru atau merevisi pertanyaan lama atau kemudian berputar lagi seperti semula sampai batas tertentu yang dikehendaki peneliti.
Dalam penelitian dengan pendekatan analisis semiotika terdapat prinsip-prinsip umum sebagai berikut:68
a.Pendekatan analisis semiotika tidak bisa bersifat kuantitatif oleh karena makna (yang dikandung dalam teks) diderivasikan dari hubungan-hubungan, perlawanan-perlawanan dan konteks-konteks, dan bukan dari temuan kuantitatif.
b.Pendekatan analisis lebih diarahkan kepada isi pesan yang bersifat laten dan isi pesan inilah yang dinilai lebih esensial dalam penelitian.
c.Pendekatan analisis semiotika tidak mementingkan prosedur-prosedur sampling dan menolak anggapan bahwa semua unit isi semestinya diperlakukan sama.
d.Pendekatan analisis semiotika tidak menerima anggapan bahwa realitas sosial dan kultural baik yang ada pada pesan (teks) maupun yang ada pada khalayak, keduanya berkenaan dengan sistem makna yang sama, terutama pesan-pesan atau teks yang bersifat essay (naratif).

3.Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Sriwedari, Surakarta dengan berbagai pertimbangan, antara lain:
a.Komunitas Punk terbesar di Surakarta terdapat di Sriwedari;
b.Komunitas Punk tertua di Surakarta terdapat di Sriwedari;
c.Lokasi tersebut relatif dekat.

4.Sumber Data
a.Sumber Data Primer
Yaitu data yang diperoleh langsung dari media yang menjadi obyek penelelitian. Dalam hal ini adalah gaya busana/gaya busana punk.

b.Sumber Data Sekunder
Yaitu berbagai jenis data yang diperoleh dengan studi kepustakaan, informasi media massa (baik cetak maupun elektronik) dan wawancara dengan ahli terkait mengenai tanda-tanda visual serta observasi pada obyek yang diteliti.

5.Unit Analisa
Unit Analisa dalam penelitian ini adalah punk gaya busana style atau gaya busana punk. Gaya busana/gaya busana punk akan dianalisis berdasarkan penampilan seorang punker. Punker yang akan dijadikan informan adalah punker Solo dengan pertimbangan lokasi yang dekat. Untuk memudahkan proses penelitian, maka dibuat skema analisis penelitian dengan tujuan untuk mengetahui unit terteliti.
Berikut unit-unit analisis peneliti:
Unit Terteliti
Unsur
Sub Unsur
Non verbal - non vokal / visual (gaya busana Punk)
a.rambut

b.riasan wajah
c.pakaian (baju/kaos, celana, jaket)
d.sepatu

e.aksesoris (badge, safety pins, piercings, tato, kalung, gelang, sabuk)
model, warna

make-up
bahan, model/potongan, warna, merk
bahan, model, warna, merk
bahan, model, warna, merk

6.Analisis Data
Untuk menganalisis makna dari tanda-tanda visual yang ada pada fasion punk ini digunakan metode semiotika. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data adalah dengan mengelompokkan data yang berupa gaya berbusana ke dalam beberapa bagian kemudian data akan dianalisis dengan menggunakan analisis semiologi Roland Barthes.
Analisis data dapat digambarkan sebagai berikut:










makna

Semiologi Roland Barthes tersusun atas tingkatan-tingkatan system bahasa. Umumnya Barthes menyebutnya dalam dua tingkatan bahasa, bahasa tingkatan pertama adalah bahasa sebagai obyek dan bahasa tingkatan kedua disebut sebagai metabahasa. Bahasa ini merupakan suatu system tanda yang memuat penanda dan petanda. System tanda kedua terbangun dengan menjadikan penanda dan petanda tingkat pertama sebagai petanda baru yang kemudian memiliki penanda baru sendiri dalam suatu system tanda baru pada taraf yang lebih tinggi. System tanda tingkat pertama disebut sebagai denotasi atau system terminologis, sedangkan system tanda tingkat kedua disebut sebagai konotasi atau system retoris atau mitologi. Fokus kajian Barthes terletak pada system tanda tingkat kedua atau metabahasa.69
Pada dasarnya semiotika merupakan ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat. Yang menjadi dasar semiotika adalah konsep tentang tanda: tak hanya bahasa dan system komunikasi yang tersusun oleh tanda-tanda, melainkan dunia itu sendiri pun –sejauh terkait dengan pikiran manusia- seluruhnya terdiri dari tanda-tanda, karena jika tidak begitu manusia tidak akan menjalin hubungan dengan realitas.
Semiotika juga bertujuan untuk menggali hakekat sistem tanda yang beranjak keluar kaidah tata bahasa dan sintaksis dan yang mengatur arti teks yang rumit, tersambung, dan tergantung pada kebudayaan. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna tambahan (connotative) dan arti pertunjukan (dennotative), atau kaitan dan kesan yang ditimbulkan dan diungkapkan melalui penggunaan dan kombinasi tanda.

Selasa, September 23, 2008

ini gw: cewek suram dan penyendiri! ada masalah???

















>_<

BEDA JAUH!


masa' bouchan lebih cantik dri gw?!
dy cowok loh!!!




Gw nggak taw napa tiba-tiba gw muncul di muka bumi. Bahkan nggak inget kapan gw minta dihidupkan ama Tuhan. Buat apa hidup kalo isinya cuman derita dan sengsara?!



Kata Soe Hok Gie, manusia yang beruntung @ yang lahir langsung mati & orang yg mati muda. Kalo gw mending nggak pernah dilahirkan aja.


Coba pikir kalo elo nggak lahir ke dunia...

  1. Elo nggak ngerepotin ortu, esp nyokap yg harus hamil 9bln 10hri.


  2. Elo nggak harus ngerasain gemana keras en sulitny bertahan hidup.


  3. Elo nggak usah makan ati ngedenger orang" ngebacot, ngomentari en ngolok-olok hidup elo.


  4. Elo nggak bakal bikin dosa.


  5. Kalo mati elo nggak perlu ngerasain siksa kubur en gaharny neraka.


See???

Kalo Tuhan Yang Maha Kuasa bersedia mengabulkan,

gw lebih baek nggak pernah dilahirkan ke dunia ini.

Nggak jadi apa-apa.

Nggak eksis.